Tampilkan postingan dengan label Ilmu Budaya Dasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Budaya Dasar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juli 2011

5 Kebudayaan India Paling Unik

1. Strange Health Ritual


 Di beberapa bagian India, tradisi ini dipraktekkan oleh para pemimpin agama Hindu untuk menyembuhkan anak-anak yang menderita penyakit ringan seperti flu, demam. Setiap tahun polisi India menangkap orang-orang yang melakukan praktek ini; ini ritual yang aneh dan berbahaya yang telah dilakukan di India sekitar 500 tahun. Satu lagi misteri manusia untuk Anda.

2. Thaipusam


 Thaipusam adalah festival yang dirayakan oleh umat Hindu Tamil selama bulan Tamil Thai (Januari – Februari), juga dirayakan oleh umat Hindu non-India yang berada di Sri Lanka-, Malaysia dan Afrika Selatan. Thaipusam didedikasikan untuk Dewa Hindu Murugan, putra Siwa dan Parvati. Pada hari Thaipusam, sebagian besar umat Dewa Murugan memberinya buah-buahan dan bunga-bunga warna kuning atau oranye, warna favorit dan juga menghiasi gaun dengan warna yang sama, banyak juga umat melakukan penyiksaan tubuh mereka untuk menyenangkan Dewa agar memaafkan mereka .

3. Burying Tradition


 Tradisi Hindu yang lain dan sangat aneh adalah praktek mengubur anak cacat hidup sampai leher mereka selama enam jam saat gerhana matahari selama kurang lebih enam jam. Hindu mengatakan bahwa mereka melakukan praktek ini untuk meniadakan akibat yang buruk yang disebabkan oleh Gerhana matahari.

4. Crab Ritual


 Di kota Gujarat India, pada kesempatan Makar Sankranti, ratusan pengikut Hindu berdiri dalam antrian panjang untuk menawarkan kepiting sebagai korban kepada Dewa Siwa di kuil Tuhan di pertengahan Januari. Penawaran kepiting telah menjadi ritual usia-tua dan umat percaya bahwa keinginan mereka akan terpenuhi dengan menawarkan kepiting di kuil Ramnath Shiv Ghela.

5.Budaya Sati

 
Budaya Sati adalah praktik pemakaman diantara beberapa komunitas Hindu di mana seorang wanita janda baru akan secara sukarela atau dengan menggunakan kekerasan dan pemaksaan mengorbankan dirinya dibakar diatas tumpukan kayu pemakaman suaminya. Praktek ini sekarang langka dan ditinggalkan di India modern.

Sumber : Kaskus


Rabu, 06 Juli 2011

Hakikat Cinta dan Benci



 Cinta (al-mahabbah) dan benci (al-karâhah), merupakan fitrah emosional yang dianugerahkan Allah SWT pada seluruh manusia. Bagi seorang Muslim, cinta dan benci itu harus berdasarkan proporsionalisasi syarî’at. Karena, bisa jadi, apa yang kita cintai itu justru sesuatu yang buruk, dan sebaliknya membenci sesuatu yang sebetulnya baik buat kita (Qs.2:216). Jika tidak demikian, betapa banyak orang yang akan menjadi korban akibat tidak tahu menempatkan arti cinta dan benci ini.

Dalam Islam, cinta seseorang haruslah berlandaskan kepengikutan (ittiba’) dan ketaatan. Sebagaimana firman-Nya, "Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu" (Qs.3:31-32).

Salah satu cinta yang diajarkan Rasulullah SAW. diantaranya adalah, mencintai dan mengasihi sesama. Kecintaan ini, sebagaimana pernah dicontohkan beliau, tak pernah dibedakan antara Muslim dan non-Muslim. Bahkan, tidak dibenarkan jika kita tidak berbuat adil kepada suatu kaum misalnya, hanya karena benci kepada mereka (Qs.5:8).

Ajaran cinta Islami yang mesti disemaikan bukanlah sebatas sesama Muslim. Tetapi justru sesama manusia dan sesama makhluk. Rasulullah SAW. bersabda, "Hakikat seorang Muslim adalah, mencintai Allah dan Rasul-nya, sesamanya, serta tetangganya, melebihi atau sebagaimana ia cinta kepada dirinya sendiri" (HR. Imâm Bukhârî).

Kecintaan yang terekspresikan akan menjadi amal saleh buat pelakunya. Maka dari itu, kecintaan maupun kebaikan, meskipun baru tersirat dalam hati dan belum terlaksana, tetap akan mendapat pahala di sisi Allah. Sebaliknya, kebencian yang tersimpan dalam lubuk hati di samping sebuah kewajaran, juga tidak dicatat sebagai keburukan, hingga niatnya itu betul-betul dilakukan (al-Hadits).

Ekspresi sebuah kebencian tak lain sikap hasud yang dilarang Islam. Hasad adalah iri dan bersikap dengki terhadap orang atau kelompok lain, bahkan sebisa mungkin, berupaya menjatuhkan dan menghilangkan semua kepemilikan seseorang yang dianggap lawannya itu. Dari sini hasud berubah wujud menjadi hasutan, bagaimana merekayasa isu dan gosip tanpa fakta untuk turut meyakinkan orang lain, agar sama-sama membenci bahkan menganiaya orang atau kelompok tertentu. 

Benci yang hasud seperti di atas dilarang Rasulullah SAW, sabdanya, "Jauhilah oleh kalian sikap hasud, karena hasud itu niscaya akan memakan amal kebaikanmu layaknya api menghanguskan kayu bakar" (HR. Abû Dâwûd).

Wajah seorang muhâsid (pelaku hasud) tak lain seorang provokator yang senang mengadu-domba antarsesama, menabur fitnah, serta wujud dari kerja sama dalam menebar dosa (al-itsm) dan permusuhan (al-‘udwân). Mereka diancam Nabi SAW. tidak akan masuk surga, karena mencoba memutuskan pertalian kasih dan sayang antarsesama manusia (HR. Bukhârî-Muslim).

Dalam konteks Islam, shilat-u ar-rahmi (shilah, menghubungkan; dan rahmi, berasal dari rahim yang sama) merupakan keharusan menyemaikan perdamaian dan keharmonisan hidup antarinsan. Inilah inti rahmat-an lil-‘âlamîn; mencintai dan membenci karena Allah akan mendatangkan rahmat, sebaliknya, jika sesuai seleranya sendiri, terancam kepedihan azab-Nya. Dalam arti, tidak turunnya rahmat dan bertaburnya benih-benih perpecahan dan perselisihan (Bulûghu ‘l-Marâm, 2000; 496).** 

Agar kecintaan tumbuh dan bersemai dalam diri setiap insan, Rasulullah mengajarkan, "Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam (kedamaian), berilah makan orang yang membutuhkan, sambungkanlah tali persaudaraan, dan shalatlah Tahajjud pada sepertiga malam (introspeksi), niscaya kamu akan masuk surga dengan damai" (HR. Imâm Tirmidzî).

Sumber : pesantrenvirtual.com

Rabu, 01 Juni 2011

Pertemuan Dan Cinta




          Gabriel dan Marcel, seorang filsuf kelahiran Paris (1889-1973), mengemukakan hakikat pertemuan atau kehadiran dan cinta. Kodrat sosial manusia atau hubungannya dengan orang lain, yang hanya berdasarkan kecenderungan-kecenderungan biologis dan psikologis manusia, tidak menghasilkan hidup bersama yang sejati. Orang yang mengikuti kecenderungan-kecenderungan itu mewujudkan hubungan dengan orang lain atas taraf biologis dan psikologis, tetapi mereka belum tentu beremu dengan orang lain sebagai pribadi, sebagai persona.

          Pertemuan antara dua orang dapat membangkitkan rasa cinta. Pertemuan yang merupakan kontak antara dua orang ialah antara “Aku” dan “Engkau”, yang saling membuka hati, saling meyerahkan diri, terbuka, dan jujur. Dalam pertemuan pikiran-pikiran egoistic dilepaskan, sebaliknya dibangkitkan kesediaan dalam situasi bersama. Hubungan “Aku” dan “Engkau” adalah hubungan dinamis, berkembang, yang dimulai dengan kepercayaan sampai lebih nyata dalam cinta dan persahabatan. 

          Hubungan antara dua orang memuncak dalam hubungan cinta. Asal mula hubungan cinta itu adalah anigerah Tuhan. Syarat cinta ialah kerendahan hati pada orang yang memanggil, kesediaan pada orang yang dipanggil. Dalam cinta unsure individualis masih ada, hanya ditutupi dengan berbagai pengorbanan, tetapi demi cinta pula. Cinta tidak dapat diukur secara objektif. Bahkan sulit sekali untuk mengetahui apakah saya sendiri mencintai orang lain atau tidak karena cinta mencakup seluruh eksistensi manusia.

          Dalam cinta timbul communion, kebersamaan yang sungguh-sungguh komunikatif, “mencintai” selalu mengandung suatu imbauan (invocation) kepada sesame. Kebersamaan dalam cinta ini, menurut kodratnya, harus berlangsung terus, tidak terbatas pada satu saat saja. Karena itu, dalam pengalaman cinta terkandung juga bahwa “Aku” mengikat diri dan tetap setia. Kesetiaan itu sanggup membaharui dan memperkokoh cinta.

          Akan tetapi, suatu saat cinta dapat terputus secara mendadak karena adanya penghianatan terhadap partner dalam cinta. Bila yang dicintai tidak cocok dengan gambaran semula tentang dia, ia tetap dapat dicintai. Tetapi pada suatu saat mungkin ia mengakui : Aku ditipu. Ini hanya membuktikan bahwa dalam cinta tetap ada kemungkinan untuk memandang adanya orang ketiga. Untuk lebih waspada, perlu adanya konsep cinta dalam ajaran Islam.

Prof. Dr. kamanto Sunarto.”Pengantar Sosiologi”. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta: 2000.

Kamis, 26 Mei 2011

Rasa Kasihan, Cinta dan Persahabatan




          Tak ada seorang pun yang mau hidup tanpa sahabat. Da yang membuat kita bermoral adalah adanya perhatian kita secara pribadi terhadap orang-orang yang paling dekat dengan kita. Baru setelah itu, kita memberi perhatian kepada banyak orang yang belum pernah kita temui, dan kepada manusia pada umumnya. Persahabatan dijalin dalam bentuk pengalaman, mungkin karena kesamaan tujuan, profesi dan sebagainya. Inti persahabatan ialah adanya kesediaan untuk saling berkorban, bukan dalam konteks materi, melainkan lebih dari itu, tetepi nilai-nilai rasa kemanusiaan, dan seterusnya. Persahabatan juga dapat terjalin karena berada dalam situasi yang sama dalam konteks hubungan sosial, atau pandangan yang sama, atau jalan pikiran yang sama. Persahabatanpun dapat merenggang karena adanya perbedaan dalam berbagai segi (segi yang merintis persahabatan). Bahkan sampai pada tahap konflik kalau perbedaan segi-segi tersebut sangat tajam.

          Perasaan kasihan secara harfiah berarti “merasa dengan”. Dalam pengertian ini, perasaan-perasaan sosial kita yang paling mendasar, dasar seluruh moralitas dan merupakan perekat emosional yang menghimpun masyarakat dan akhirnya seluruh kemanusiaan bersama-sama. Adanya rasa kasihan yang ditanamkan dalam akhlak, membantu seseorang menjadi pemurah.

          Rasa kasihan adalah seperti emosi, mempunyai kekuatan untuk mendorong kita. Sering kita bertindak memberikan bantuan kepada orang, bukan karena dorongan hati, atau merasa kasihan, sebelum kita mengerti apa masalahnya. Tetapi peru diingat bahwa rasa kasihan selalu menyangkut kepentingan dan kebahagiaan orang lain. Walaupun ada istilah “kasihan diri”, umunya orang tidak dapat berbicara tentang mengasihi diri sendiri.

          Rasa kasihan tidak hanya sekedar perekat yang menghimpun orang bersama-sama melalui timbal-balik. Rasa kasihan merupakan hubungan konseptual antara persoalan-persoalan pribadi seseorang yang paling spontan dan tuntutan-tuntutan moralitas yang diarahkan kepada orang lain.

          Rasa kasihan merupakan sentimen yang kita rasakan terhadap orang lain ataupun kepada binatang. Sentimen dalam hal ini adalah suatu emosi yang abstrak. Sentimen ini tidak membeda-bedakan orang yang kita kenal dengan baik dan orang yang tidak dikenal. Tetapi, rasa kasihan ini juga dapat merupakan bibit dari apa yang dinamakan dengan cinta.

Prof. Dr. kamanto Sunarto.”Pengantar Sosiologi”. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta: 2000.