Tampilkan postingan dengan label Religion and Science. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religion and Science. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Oktober 2011

Fakta Besar Tentang Ka'bah



Ternyata Bukan GMT Bukan Di Greenwich,Tapi Di Ka’bah (Fakta Ilmiah)

Ka’bah merupakan rumah Allah, sejuta ummat muslimmerindukan berkunjung dan menjadi tamu - tamu Allah sang maha pencipta.Kiblatnya (arah) ummat muslim dalam melaksanakan sholat, dari negara manapunsemua ibadah sholat menghadap ke kiblat ini.

Istilah Ka’bahadalah bahasa al quran dari kata “ka’bu” yg berarti “mata kaki” atau tempatkaki berputar bergerak untuk melangkah. Ayat 5/6dalam Al-quran menjelaskan istilahitu dg “Ka’bain” yg berarti ‘dua mata kaki’ dan ayat 5/95-96 mengandung istilah‘ka’bah’ yg artinya nyata “mata bumi” atau “sumbu bumi” atau kutub putaranutara bumi.

Neil Amstrongtelah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planet Bumi. Fakta initelah di diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah.

Ketika NeilAmstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa danmengambil gambar planet Bumi, dia berkata, “Planet Bumi ternyata menggantung diarea yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya ?.”

Para astronottelah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secararesmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayang nya 21 hari kemudianwebsite tersebut raib yang sepertinya ada alasan tersembunyi dibalikpenghapusan website tersebut.

Setelahmelakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kotaMekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasi tersebutbersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini terbuktikan ketika merekamengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus.

Para penelitiMuslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkanantara Ka’Bah di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.

Makkah Pusat Bumi

Prof. HussainKamel menemukan suatu fakta mengejutkan bahwa Makkah adalah pusat bumi. Padamulanya ia meneliti suatu cara untuk menentukan arah kiblat di kota-kota besardi dunia.

Untuk tujuanini, ia menarik garis-garis pada peta, dan sesudah itu ia mengamati denganseksama posisi ketujuh benua terhadap Makkah dan jarak masing-masing. Iamemulai untuk menggambar garis-garis sejajar hanya untuk memudahkan proyeksigaris bujur dan garis lintang.

Setelah duatahun dari pekerjaan yang sulit dan berat itu, ia terbantu oleh program-programkomputer untuk menentukan jarak-jarak yang benar dan variasi-variasi yangberbeda, serta banyak hal lainnya. Ia kagum dengan apa yang ditemukan, bahwaMakkah merupakan pusat bumi.

Ia menyadarikemungkinan menggambar suatu lingkaran dengan Makkah sebagai titik pusatnya,dan garis luar lingkaran itu adalah benua-benuanya. Dan pada waktu yang sama,ia bergerak bersamaan dengan keliling luar benua-benua tersebut. (Majalahal-Arabiyyah, edisi 237, Agustus 1978).

Gambar-gambarSatelit, yang muncul kemudian pada tahun 90-an, menekankan hasil yang samaketika studi-studi lebih lanjut mengarah kepada topografi lapisan-lapisan bumidan geografi waktu daratan itu diciptakan.

Telah menjaditeori yang mapan secara ilmiah bahwa lempengan-lempengan bumi terbentuk selamausia geologi yang panjang, bergerak secara teratur di sekitar lempengan Arab.Lempengan-lempengan ini terus menerus memusat ke arah itu seolah-olah menunjukke Makkah.

Studi ilmiahini dilaksanakan untuk tujuan yang berbeda, bukan dimaksud untuk membuktikanbahwa Makkah adalah pusat dari bumi. Bagaimanapun, studi ini diterbitkan didalam banyak majalah sain di Barat.

Allahberfirman di dalam al-Qur’an al-Karim sebagai berikut:
‘DemikianlahKami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberiperingatan kepada Ummul Qura (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya..’(asy-Syura: 7)

Kata ‘UmmulQura’ berarti induk bagi kota-kota lain, dan kota-kota di sekelilingnyamenunjukkan Makkah adalah pusat bagi kota-kota lain, dan yang lain hanyalahberada di sekelilingnya. Lebih dari itu, kata ummu (ibu) mempunyai arti yang pentingdi dalam kultur Islam.

Sebagaimanaseorang ibu adalah sumber dari keturunan, maka Makkah juga merupakan sumberdari semua negeri lain, sebagaimana dijelaskan pada awal kajian ini. Selainitu, kata ‘ibu’ memberi Makkah keunggulan di atas semua kota lain.

Makkah atau Greenwich

Berdasarkanpertimbangan yang seksama bahwa Makkah berada tengah-tengah bumi sebagaimanayang dikuatkan oleh studi-studi dan gambar-gambar geologi yang dihasilkansatelit, maka benar-benar diyakini bahwa Kota Suci Makkah, bukan Greenwich,yang seharusnya dijadikan rujukan waktu dunia. Hal ini akan mengakhirikontroversi lama yang dimulai empat dekade yang lalu.

Ada banyakargumentasi ilmiah untuk membuktikan bahwa Makkah merupakan wilayah nol bujursangkar yang melalui kota suci tersebut, dan ia tidak melewati Greenwich diInggris. GMT dipaksakan pada dunia ketika mayoritas negeri di dunia berada dibawah jajahan Inggris. Jika waktu Makkah yang diterapkan, maka mudah bagisetiap orang untuk mengetahui waktu shalat.

Makkahadalah Pusat dari lapisan-lapisan langit

Ada beberapaayat dan hadits nabawi yang menyiratkan fakta ini. Allah berfirman, ‘Haigolongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langitdan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengankekuatan.’ (ar-Rahman:33)

Kata aqtharadalah bentuk jamak dari kata ‘qutr’ yang berarti diameter, dan ia mengacu padalangit dan bumi yang mempunyai banyak diameter.

Dari ayat inidan dari beberapa hadits dapat dipahami bahwa diameter lapisan-lapisan langititu di atas diameter bumi (tujuh lempengan bumi). Jika Makkah berada ditengah-tengah bumi, maka itu berarti bahwa Makkah juga berada di tengah-tengahlapisan-lapisan langit.

Selain itu adahadits yang mengatakan bahwa Masjidil Haram di Makkah, tempat Ka‘bah berada ituada di tengah-tengah tujuh lapisan langit dan tujuh bumi (maksudnya tujuhlapisan pembentuk bumi).

Sumber : Kaskus

Selasa, 13 September 2011

Fenomena Hujan Darah dan Hujan Katak Sudah Ada di Alquran?



Meski sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, fenomena hujanberwarna merah kembali ramai dibicarakan. Di India, para penduduk lokal daerahKerala menemukan baju-baju yang dijemur berubah warna menjadi merah sepertidarah. Mereka melaporkan adanya bunyi ledakan dan cahaya terang yang mendahuluiturunnya hujan yang dipercaya sebagai ledakan meteor.

Contoh air hujan tersebut segera dibawa untuk diteliti olehilmuwan independen, Godfrey Louis dan Santosh Kumara dari Universitas MahatmaGandhi. Pertama kali mereka mengira bahwa partikel merah di dalam air adalahpartikel pasir yang terbawa dari gurun Arab. Di Universitas Sheffield, Inggris,seorang ahli mikrobiologis bernama Milton Wainwright mengkonfirmasi bahwa unsurmerah tersebut adalah sel hidup. Hal ini dinyatakan karena Wainwright berhasilmenemukan adanya DNA dari unsur sel tersebut walaupun ia belum berhasilmengekstraknya.

Sedangkan hujan hewan terjadi pada Juni 2009 di Jepang. Hewan inimemiliki panjang dengan diameter 5 cm berbentuk seperti ikan dan kodok, sejauhini tidak ada yang dapat menjelaskan kenapa hal ini bisa terjadi. Beberapaorang menyebutkan ini merupakan fenomena langka yang pernah terjadi yangdiakibatkan perubahan cuaca yang tidak menentu di negara sakura ini. Bagianmeteorologi Jepang juga tidak dapat menjelaskan apa penyebab terjadinya haltersebut. (Sumber: Athepostrad)

Beberapa orang yang seperti menuhankan ilmu pengetahuanmenyebutnya sebagai fenomena alam. Saya tidak menolak adanya proses alam,karena hal itu sesuatu yang natural dan sudah menjadi ketetapan-Nya. Istilahagama menyebutnya sunatullah. Tapi terkadang, kita melupakan sumber segalasebab musabab dan sumber segala sesuatu, yakni Tuhan semesta alam. Apa yang hendakditampakkan adalah Kekuasaan-Nya yang maha dan tunggal. Agar kita, manusia,tidak lagi sombong dengan menuhankan segala ilmu pengetahuan alam dan melupakanadanya Pencipta alam.

Alquran dan Injil mengisahkan tentang kesombongan Firaun dankaumnya. Jika diberi kebaikan dan kemakmuran dari Tuhan, mereka berkata,“Inilah usaha kami.” Manusia zaman sekarang juga ada yang seperti ini, ketikasukses mereka berkata, “Ya, karena usaha saya, saya ini berhasil.” Jika ditimpakesusahan, kaum Firaun melemparkan sebab kesialan itu kepada Musa danpengikutnya. (QS. 7: 131)

Seolah menantang dan keras kepala, pengikut Firaun berkata,“Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kamidengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.” (QS.7: 132). Firaun dan pengikutnya yang masih ada hingga sekarang ini meledekbahwa bukti kekuasaan Tuhan yang disampaikan melalui Musa (Moses) dan Harun(Aaron) as. itu sebagai sihir. “Maka Kami kirimkan kepada mereka topan(thûfân), belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapimereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS. 7:133)

Jadi, apa yang terjadi di zaman sekarang bukanlah sesuatu fenomenabaru dan menganehkan. Zaman dahulu, sebagai bukti bagi orang yang ingkar kepadaTuhan, Allah sudah tampakkan kuasa-Nya. Hanya orang-orang yang sadar danberpikir yang dapat mengambil pelajaran. Wallahualam.

Sumber : Kaskus

Senin, 08 Agustus 2011

Syarat Memanfaatkan Iman dan Ilmu








Kenikmatan Iman dan ilmu ini tidak bisa dimanfaatkan kecuali orang yang
telah mengetahui dirinya, lalu mengetahui batasnya dan berhenti disitu, lalu
tidak melewati batas terhadap apa yang diluar kemampuannya, dan tidak berkata;
ini milikku, tetapi berkeyakinan ini adalah milik Allah, dari Allah dan dengan
Allah. Ia merasa mendapatkan kenikmatan ini bukan dari suatu sebab, dan tidak
merasa memilikinya lalu nikmat-nikmat itu membuat dirinya bertambah merendah
seolah orang yang tidak merasa dirinya memiliki kebaikan, dan sesungguhnya
kebaikannya hanya dimiliki oleh Allah, dan daripada-Nya dan dengan-Nya, lalu ia
berbiacara dengan kenikmatan tersebut dengan penuh merendah.





Apabila nikmat baru datang kepada seorang hamba, maka ia
bertambah bersyukur, lalu merendah, khusu’, cinta, takut, dan berharap. Ini
karena dilandasi dua ilmu yang mulia; ilmu tentang Rabbnya, kesempurnaan-Nya,
kebaikan-Nya, kecukupan-Nya, kelomaan-Nya, dan rahmat-Nya, dan sesungguhnya
kebaikan disisi-Nya, dan ia milik-Nya dan akan diberikan kepada orang yang
dikehendaki. Ialah yang memiliki pujaan atas ini dan inilah pujaan yang
termulia dan paling sempurna.  Lantas
ilmunya tentang dirinya (ia kenal akan kedudukan dirinya) lalu berhenti pada
batasnya, dan mengerti bahwa dirinya penuh dengan kedzaliman dan kebodohan.





Ia merasa bahwa dirinya belum memiliki kebaikan sama
sekali, kebaikan yang menjadi miliknya tidak ada, atau daripadanya juga tidak. Jadi
ia merasa dirinya tidak ada, begitu juga sifat dan kesempurnaannya dianggap
tiada, tiada sesuatu yang lebih hina atau lebih memiliki kekurangan
daripadanya,  jadi kebaikan yang ada
hanya tumbuh dari dirinya belaka bukan atas usahanya.





Apabila dua ilmu itu telah menjadi karakter bukan
sekedar di lidah, maka ia akan mengetahui bahwa pujaan secara keseluruhan
adalah dimiliki oleh Allah, dan sesungguhnya seluruh persoalan milik-Nya, dan
seluruh kebaikan di sisi-Nya dan ialah yang berhak terhadap pujaan bukan
dirinya dan dirinya ini layak mendapat celaan. Barangsiapa yang tidak tahkik
dalam hal ini atau dengan dua ilmu ini, maka perkataan dan perbuatan atau
keadaannya akan bermacam-macam, lalu jatuh kesuatu kesesatan dan tidak bisa
mendapat jalan perunjuk ke yang bisa mengantarkan kepada Allah.





Jadi seorang hamba bisa usul kalau telah mentahkik dua
ilmu itu dan hubungan akan terputus dengan Allah bila tidak mengerti dua ilmu
itu. Dan inilah perkataan mereka; Barangsiapa yang mengenali dirinya akan
mengenal kepada Rabbnya.





Sesungguhnya barangsiapa yang mengetahui dirinya
dengan kebodohan, penganiayaan, aib, kekurangan, kebutuhan, kehinaan,
kemiskinan, dan tiada, maka akan mengenal Rabbnya dengan sifat lawannya, lalu
ia bisa membatasi dirinya dan tidak akan melewati batas, lalu memuji kepada
Rabbnya, lalu akan timbul cinta, takut, harapan dan selalu kembali kepada-Nya,
dan bertawakal kepada-Nya. Lantas Allah akan dijakdikan sebagai Rabb yang
paling disenangi paling ditakuti,  dan
diharapkan, dan inilah hakikat ubudiyah.





Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.Memetik Manfaat Al-Qur’an. Daar Al Yaqiin li An Nasyar wa At
Tauzii’, Mesir, Al Manshur.2000.





Sabtu, 06 Agustus 2011

Ciri Kedewasaan

Ciri khas umat Dewasa diawali dengan Diam Aktif yaitu kemampuan untuk menahan diri dalam berkomentar. Orang yang memiliki kedewasaan dapat dilihat dari sikap dan kemampuannya dalam mengendalikan lisannya, seorang anak kecil, saudaraku apa yang dia lihat biasanya selalu dikomentari. 
Orang tua yang kurang dewasa mulutnya sangat sering berbunyi, semua hal dikomentari., ketika dia melihat sesuatu langsung dipastikan akan dikomentari,ketika menonton televisi misalnya ; komentar dia akan mengalahkan suara dari televisi yang dia tonton . Penonton tv yang dewasa itu senantiasa bertafakur, acara yang dia tonton senantiasa direnungkan (tentunya acara yang mbermanfaat) dan memohon dibukakan pintu hikmah kepada Allah, Subhanalloh. 
Ketika menyaksikan demonstrasi dia bertafakur.. \"beginilah kalau negara belum matang, setiap waktu demo,kata-kata yang dikeluarkan jauh dari kearifan\"\"ternyata sangat mudah menghina, mencaci, dan memaki itu\" Seseorang yang pribadinya matang dan dewasa bisa dilihat dari komentar-komentarnya,makin terkendali Insya Allah akan semakin matang.
Ciri kedewasaan selanjutnya dapat dilihat dari Empati. Anak-anak biasanya belum dapat meraba perasaan orang lain, orang yang bertambah umurnya tetapi tidak dapat meraba perasaan orang lain berarti belum dapat disebut dewasa. Kedewasan seseorang dapat dilihat dari keberanian melihat dan meraba perasaan orang lain. Seorang ibu yang dewasa dan bijaksana dapat dilihat dari sikapterhadap pembantunya yaitu tidak semena-mena menyuruh, walaupun sudah merasa menggajinya tetapi bukan berarti berkuasa,bukankah di kantor ketika lembur pasti ingin dibayar overtime ? tetapi pembantu lembur tidak ada overtime ? semakin orang hanya mementingkan perasaannya saja maka akansemakin tidak bijaksana. Semakin orang bisa meraba penderitaan orang lain Insya Allah akan semakin bijak. Percayalah tidak akan bijaksana orang yang hidupnya hanya memikirkan perasaannya sendiri.
Orang yang dewasa, cirinya hati-hati (Wara’),dalam bertindak. Orang yang dewasa benar-benar berhitung tidak hanya dari benda, tapi dari waktu ; tiap detik,tiap tutur kata , dia tidak mau jika harus menanggung karena salah dalam mengambil sikap. Anak-anak atau remaja biasanya sangat tidak hati-hati dalam bercakap dan mengambil keputusan. Orang yang bersikap atau memiliki kepribadian dewasa (wara’) dapat dilihat dalam kehati-hatian memilih kata, mengambil keputusan,mengambil sikap, karena orang yang tidak dewasa cenderung untuk bersikap ceroboh. 
Orang yang dewasa terlihat dalam kesabarannya (sabar), kita ambil contoh ; didalam rumah seorang ibu mempunyai 3 orang anak, yang satu menangis, kemudian yang lainnya pun ikut menangis sehingga lama-kelamaan menjadi empat orang yang menangis , mengapa ? karena ternyata ibunya menangis pula. Ciri orang yang dewasa adalah sabar, dalam situasi sesulit apapun lebih tenang,mantap dan stabil.
Sahabat-sahabat, seseorang yang dewasa benar-benar mempunyai sikap yang amanah, memiliki kemampuan untuk bertanggung jawab. 
Untuk melihat kedewasaan seseorang dapat dilihat dari kemampuannya bertanggungjawab, sebagai contoh ; seorang ayah dapat dinilai bertanggung jawab atau tidak yaitu dalam cara mencari nafkah yang halal dan mendidik anak istrinya ? Bukan masalah kehidupan dunia , yang menjadi masalah mampu tidak mempertanggungjawabkan anak-anak ketika pulang ke akherat nanti ? Ke surga atau neraka? Oleh karena itu orang tua harus bekerja keras untuk menjadi jalan kesuksesan anak-anaknya di dunia dan akherat. 
Kesuksesan kita adalah bagaimana kita bisa memompa diri kita dan menyukseskan orang-orang disekitar kita, kalau ingin tahu kesuksesan kita coba lihat perkembangan keluarga kita, istri dan anak-anak kita maju tidak? lihat sanak saudara kita pada maju tidak? Jangan sampai kita sendirian yang maju, tapi sanak saudara kita hidup dalam kesulitan, ekonominya seret, pendidikanseret.,sedang kita tidak ada kepedulian. Berarti itu sebuah kegagalan.,kedewasaan seseorang itu dilihat dari bagaimana kemampuan memegang amanah ?
Sumber : aA Gym

Sabtu, 23 Juli 2011

Manfaat Wudhu Sebelum Tidur


Memang ini kedengarannya sepele.Tapi jangan anggap enteng soal ini, pasalnya nabi senantiasa wudhu sebelu tidur.berwudhu,disamping bernilai ibadah juga bermanfaat besar bagi kesehatan .

peneliti dari Universitas Alexsandria ,dr musthafa syahatah ,yang sekaligus menjabat sebagai Dekan Fakultas THT, menyebutkan bahwa jumlah kuman pada orang yang berwudhu lebih sedikit dibanding orang yang tidak berwudhu.

Dengan ber-istisnaq (menghirup air dalam hidung) misalnya kita dapat mencegah timbulnya penyakit dalam hidung. Dengan mencuci kedua tangan ,kita dapat menjaga kebersihan tangan. Kita juga bisa menjaga kebersihan kulit wajah bila kita rajin berwudhu. Selain itu,kita juga bisa menjaga kebersihan daun telinga dan telapak kaki kita, artinya dengan sering berwudhu kita dapat menjaga kesehatan tubuh kita. 

Lalu ,bagaimana jika berwudhu dilakukan sebelum tidur ? Nah,para pakar kesehatan di dunia senantiasa menganjurkan agar kita mencuci kaki mulut dan muka sebelum tidur. Bahkan ,sejumlah pakar kecantikan memproduki alat kecantikan agar dapat menjaga kesehatan kulit muka.

Di samping itu tentunya anjuran untuk berwudhu juga mengandung nilai ibadah yang tinggi. Sebab ketika seseorang dalam keadaan suci. Jika seseorang berada dalam keadaan suci,berarti ai dekat dengan Allah. Karena Allah akan dekat dan cinta kepada orang-orang yang berada dalam keadaan suci.

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa tidur dimalam hari dalam keadaan suci (berwudhu') maka Malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya Malaikat itu akan berucap 'Ya Allah ampunilah hamba mu si fulan, kerana ia tidur di malam hari dalam keadaan selalu suci'". (HR Ibnu Hibban dari Ibnu Umar r.a.)


Hal ini juga ditulis dalam kitab tanqih al-Qand al-Hatsis karangan syekh muhamad bin umar an-nawawi al-mantany. Dari umar bin harits bahwa nabi bersabda :”barangsiapa tidur dalam keadaan berwudhu ,maka apabila mati disaat tidur maka matinya dalam keadaan syahid disisi allah.
Maksudnya orang yang berwudhu sebelum tidur akan memperoleh posisi yang tinggi disisi Allah.


Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa berwudhu sebelu tidur merupakan anjuran nabi yang harus dikerjakan bila seseorang ingin memperoleh kemuliaan disisi Allah.

Manfaat Wudhu Sebelum Tidur

  • Pertama, merilekskan otot-otot sebelum beristirahat. Mungkin tidak terlalu banyak penjelasan. Bisa dibuktikan dalam ilmu kedokteran bahwa percikan air yang dikarenakan umat muslim melakukan wudhu itu merupakan suatu metode atau cara mengendorkan otot-otot yang kaku karna lelahnya dalam beraktifitas. Sangat diambil dampak positifnya bahwa jika seseorang itu telah melakukan wudhu, maka pikiran kita akan terasa rileks. Badan tidak akan terasa capek.
  • Kedua, mencerahkan kulit wajah. Wudhu dapat mencerahkan kulit wajah karena kinerja wudhu ini menghilangkan noda yang membandel dalam kulit. Kotoran-kotoran yang menempel pada kulit wajah kita akan senantiasa hilang dan tentunya wajah kita menjadi cerah dan bersih.
  • Ketiga, didoakan malaikat. Dalam sabda Beliau yang disinggung pada bagian atas, malaikat akan senantiasa memberikan do’a perlindungan kepada umat muslim yang senantiasa wudhu sebelum tidur. Padahal malaikat adalah makhluk yang senantiasa berdzikir kepada Allah. niscaya do’anya akan senantiasa dikabulkan pula oleh Allah. Oleh karena itu, senantiasa berwudhu itu adalah hal yang wajib kita lakukan.
Fenomena Meninggal Dunia Saat Tidur Dalam Sunnah

Jauh-jauh hari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sudah memberikan bimbingan dalam tidur agar tidak menimbulkan bahaya, di antaranya tidur sambil miring ke kanan, tidak tidur sambil tengkurap.

Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu, Pernah suatu hari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melewati seseorang yang tidur tengkurap di atas perutnya, lalu beliau menendangnya dengan kakinya seraya bersabda,

"Sesungguhnya (posisi tidur tengkurap) itu adalah posisi tidur yang tidak disukai Allah Azza Wa Jalla." (HR. Ahmad dan Al-Hakim).

Sesungguhnya sebab kematian itu bermacam-macam, namun kematian tetaplah satu. Selain Sleep Apnea masih ada sebab lainnya yang menjadi media datangnya kematian. Karenanya, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberikan tips terbaik bagi umatnya dalam menghadapi kematian yang datangnya tak terduga ini.

Disebutkan dalam Shahihain, dari sabahat al-Bara' bin Azib radliyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda kepadanya;

"Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan shalat." (HR. Bukahri dan Muslim).

Dalam menjelaskan faidah dari perintah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ini, Al-Hafidz Ibnul Hajar menyebutkan hikmahnya, di antaranya yaitu: Agar dia tidur pada malam itu dalam keadaan suci supaya ketika kematian menjemputnya dia dalam keadaan yang sempurna. Dari sini diambil kesimpulan dianjurkannya untuk bersiap diri untuk menghadapi kematian dengan menjaga kebersihan (kesucian) hati karena kesucian hati jauh lebih penting daripada kesucian badan.

Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan tiga hikmah berwudlu sebelum tidur (yang maksudnya tidur dalam keadaan suci). Salah satunya adalah khawatir kalau dia meninggal pada malam tersebut.

Abdul Razak mengeluarkan sebuah atsar dari Mujahid dengan sanad yang kuat, Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma berkata,

"Janganlah engkau tidur kecuali dalam kondisi berwudlu (suci), karena arwah akan dibangkitkan sesuai dengan kondisi saat dia dicabut."

Source : Kaskus



Jumat, 08 Juli 2011

7 Ciri ‘Sok Tahu”



'Sok tahu' pada dasarnya adalah "merasa sudah cukup berpengetahuan" padahal sebenarnya kurang tahu. Masalahnya, orang yang sok tahu biasanya tidak menyadarinya. Lantas, bagaimana kita tahu bahwa kita 'sok tahu'? Mari kita mengambil hikmah dari Al-Qur'an. Ada beberapa ciri 'sok tahu' yang bisa kita dapatkan bila kita menggunakan perspektif surat al-'Alaq. 

1. Enggan Membaca

Ketika disuruh malaikat Jibril, "Bacalah!", Rasulullah Saw. menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Lalu malaikat Jibril menyampaikan lima ayat pertama yang memotivasi beliau untuk optimis. Adapun orang yang 'sok tahu' pesimis akan kemampuannya. Sebelum berusaha semaksimal mungkin, ia lebih dulu berdalih, "Ngapain baca-baca teori. Mahamin aja sulitnya minta ampun. Yang penting prakteknya 'kan?" Padahal, Allah pencipta kita itu Maha Pemurah. Ia mengajarkan kepada kita apa saja yang tidak kita ketahui. 

Disisi lain, ada pula orang Islam yang terlalu optimis dengan pengetahuannya, sehingga enggan memperdalam. Katanya, misalnya, "Ngapain baca-baca Qur'an lagi. Toh udah khatam 7 kali. Mending buat kegiatan lain aja." Padahal, Al-Qur'an adalah sumber dari segala sumber ilmu, sumber 'cahaya' yang tiada habis-habisnya menerangi kehidupan dunia. Katanya, misalnya lagi, "Ngapain belajar ilmu agama lagi, toh sejak SD hingga tamat kuliah udah diajarin terus." Padahal, 'ilmu agama' adalah ilmu kehidupan dunia-akhirat. 

2. Enggan Menulis

Orang yang sok tahu terlalu mengandalkan kemampuannya dalam mengingat-ingat dan menghafal pengetahuan atau ilmu yang diperolehnya. Ia enggan mencatat. "Ngerepotin," katanya. Seolah-olah, otaknya adalah almari baja yang isinya takkan hilang. Padahal, sifat lupa merupakan bagian dari ciri manusia. Orang yang sok tahu enggan mencatat setiap membaca, menyimak khutbah, kuliah, ceramah, dan sebagainya. Padahal, Allah telah mengajarkan penggunaan pena kepada manusia. 

Di sisi lain, ada pula orang yang kurang mampu menghafal dan mengingat-ingat pengetahuan yang diperolehnya, tapi ia merasa terlalu bodoh untuk mampu menulis. "Susah," katanya. Padahal, merasa terlalu bodoh itu jangan-jangan pertanda kemalasan. Emang sih, kalo nulis buat orang lain, kita perlu ketrampilan tersendiri. Tapi, bila nulis buat diri sendiri, bukankah kita gak bakal kesulitan nulis 'sesuka hati'? Apa susahnya nulis di buku harian, misalnya, "Tentang ciri sok tahu, lihat al-'Alaq!"?

3. Membanggakan Keluasan Pengetahuan

Orang yang sok tahu membanggakan kepintarannya dengan memamerkan betapa ia banyak membaca, banyak menulis, banyak mendengar, banyak berceramah, dan sebagainya tanpa menyadari bahwa pengetahuan yang ia peroleh itu semuanya berasal dari Allah. Ia mengira, prestasi yang berupa luasnya pengetahuannya ia peroleh berkat kerja kerasnya saja. Padahal, terwujudnya pengetahuan itu pun semuanya atas kehendak-Allah. 

Mungkin ia suka meminjam atau membeli buku sebanyak-banyaknya, tetapi membacanya hanya sepintas lalu atau malah hanya memajangnya. Ia merasa punya cukup banyak wawasan tentang banyak hal. Ia tidak merasa terdorong untuk menjadi ahli di bidang tertentu. Kalau ia menjadi muballigh 'tukang fatwa', semua pertanyaan ia jawab sendiri langsung walau di luar keahliannya. Ia mungkin bisa menulis atau berbicara sebanyak-banyaknya di banyak bidang, tetapi kurang memperhitungkan kualitasnya.

4. Merendahkan Orang Lain Yang Tidak Sepaham

Bagi orang Islam yang sok tahu, siapa saja yang bertentangan dengan pendapatnya, segera saja ia menuduh mereka telah melakukan bid'ah, sesat, meremehkan agama, dan sebagainya. Bahkan, misalnya, sampai-sampai ia melarang orang-orang lain melakukan amal yang caranya lain walau mereka punya dalil tersendiri. Ia menjadikan dirinya sebagai "Yang Maha Tahu", terlalu yakin bahwa pasti pandangan dirinyalah satu-satunya yang benar, sedangkan pandangan yang lain pasti salah. Padahal, Allah Swt berfirman: "Janganlah kamu menganggap diri kamu suci; Dia lebih tahu siapa yang memelihara diri dari kejahatan." (an-Najm [53]: 32) 

Muslim yang sok tahu cenderung menganggap kesalahan kecil sebagai dosa besar dan menjadikan dosa itu identik dengan kesesatan dan kekafiran! Lalu atas dasar itu dengan gampangnya ia mengeluarkan 'vonis hukuman mati'. Padahal, dalam sebuah hadits shahih dari Usamah bin Zaid dikabarkan, "Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallaah, maka ia telah Islam dan terpelihara jiwa dan hartanya. Andaikan ia mengucapkannya lantaran takut atau hendak berlindung dari tajamnya pedang, maka hak perhitungannya ada pada Allah. Sedang bagi kita cukuplah dengan yang lahiriah." 

5. Menutup Telinga dan Membuang Muka Bila Mendengar Pendapat Lain

Orang yang sok tahu tidak memberi peluang untuk berdiskusi dengan orang lain. Kalau toh ia memasuki forum diskusi di suatu situs, misalnya, ia melakukannya bukan untuk mempertimbangkan pendapat yang berbeda dengan pandangan yang selama ini ia anut, melainkan untuk mengumandangkan pendapatnya sendiri. Ia hanya melihat selayang pandang gagasan orang-orang lain, lalu menyerang mereka bila berlainan dengannya. Ia tidak mau tahu bagaimana mereka berhujjah (berargumentasi). 

Di samping itu, orang yang sok tahu itu bersikap fanatik pada pendapat golongannya sendiri. Seolah-olah ia berseru, "Adalah hak kami untuk berbicara dan adalah kewajiban kalian untuk mendengarkan. Hak kami menetapkan, kewajiban kalian mengikuti kami. Pendapat kami semuanya benar, pendapat kalian banyak salahnya." Orang yang terlalu fanatik itu tidak mengakui jalan tengah. Ia menyalahgunakan aksioma, "Yang haq adalah haq, yang bathil adalah bathil."

6. Suka Menyatakan Pendapat Tanpa Dasar Yang Kuat

Muslim yang sok tahu gemar menyampaikan pendapatnya dengan mengatasnamakan Islam tanpa memeriksa kuat-lemahnya dasar-dasarnya. Ia suka berkata, "Menurut Islam begini.... Islam sudah jelas melarang begitu...." dan sebagainya, padahal yang ia ucapkan sesungguhnya hanyalah, "Menurut saya begini.... Saya melarang keras engkau begitu...." dan seterusnya. Kalau toh ia berkata, "Menurut saya bla bla bla....", ia hanya mengemukakan opini pribadinya belaka tanpa disertai dalil yang kuat, baik dalil naqli maupun aqli. 

7. Suka Berdebat Kusi

Jika pendapatnya dikritik orang lain, orang yang sok tahu itu berusaha keras mempertahankan pandangannya dan balas menyerang balik pengkritiknya. Ia enggan mencari celah-celah kelemahan di dalam pendapatnya sendiri ataupun sisi-sisi kelebihan lawan diskusinya. Sebaliknya, ia tekun mencari-cari kekurangan lawan debatnya dan menonjol-nonjolkan kekuatan pendapatnya. Dengan kata lain, setiap berdiskusi ia bertujuan memenangkan perdebatan, bukan mencari kebenaran. 

Demikianlah beberapa ciri orang yang sok tahu menurut surat al-'Alaq dalam pemahamanku. Dengan mengenali ciri-ciri tersebut, semoga kita masing-masing dapat melakukan introspeksi dan memperbaiki diri sehingga kita tidak menjadi orang yang sok tahu. Aamien.

sumber : Eramuslim

Selasa, 05 Juli 2011

Hal-hal Yang Dapat Membantu Dalam Menuntut Ilmu



Ada beberapa hal yang seyogyanya seorang penuntut ilmu menghiasi diri dengannya, karena hal itu akan membantu dia dalam mencari ilmu atau mengokohkan ilmunya. Diantaranya :

1.     Bertaqwa kepada Allah SWT

Dalam firmanNya, “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Allah maka allah akan menjadikan untuk kalian furqon (pembeda) “ (QS. Al Anfaal;29). Dijelaskan oleh Ibnu Utsaimin, Allah akan menjadikan bagi kalian sesuatu yang bisa kalian pakai untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, manfaat dan mudharat, dan ini masuk didalamnya ilmu. Dimana Allah akan membukakan untuk seseorang ilmu-ilmu yang tidak dibukakan untuk selainnya. Karena dengan bertaqwa akan diperoleh petunjuk, tambahan ilmu, dan tambahan hapalan. 

Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Belajarlah, barangsiapa telah berilmu maka hendaklah beramal “. Beliau juga berkata, “Sungguh aku menyangka bahwa seseorang akan lupa ilmunya dengan sebab dosa yang dia lakukan “ (Adab Syar’iyyah)

2.     Memulai dengan yang lebih penting

Hal ini disebabkan karena terbatasnya kesempatan dan kemampuan, sementara ilmu yang akan dituntut sangat banyak. Ada sebuah ucapan dari seorang penyair:
Ilmu itu jika kamu cari sangat banyak
Sedang umur untuk mendapatkannya terlalu pendek
Maka mulailah dengan yang paling penting

3.     Sabar dan kontinyu dalam menuntut ilmu

Yahya bin Abi Katsir al Yamami berkata, “Ilmu itu tidak bisa didapat dengan jasmani yang santai “ (Riwayat Muslim dalam kitab Masajid Bab Auqat Shalawat Khams). Demikian pula sebagian salaf mengatakan, “Ilmu, jika engkau berikan seluruh dirimu untuknya, dia akan memberimu sebagiannya.” Begitulah para ulama terdahulu, mereka tidak mencapai derajat yang mereka capai kecuali dengan kesabaran dan kesinambungan dalam menuntut ilmu. Sufyan Ats Tsauri berkata, “Kita akan belajar terus selama kita mendapati ada yang mengajari kita “ (Adab Syar’iyyah)

4.     Menulis

Yakni menulis ilmu yang diperoleh baik dalam kajian atau dari bacaan atau yang lain. Dan jangan menerima ilmu hanya sepintas lalu karena hal ini akan menghilangkan ilmu yang didapat

5.     Menjaga Ilmu
Diantaranya dengan menjaga catatan. Oleh karena itu, semestinya menulis ilmu tersebut pada buku catatan yang layak, bukan sembarang kertas, sehingga hal ini akan membantu dia untuk menjaganya. Atau menjaga ilmu tersebut dengan menghapalnya sebagaimana yang dilakukan para ulama terdahulu maupun sekarang.

6.     Mulazamah

Yakni berguru kepada seorang ulama dan bersamanya dalam waktu yang lama. Ibnu Utsaimin menjelaskan, “Wajib bagi setiap penuntut ilmu untuk memohon pertolongan kepada Allah kemudian minta bantuan kepada para ulama dan memanfaatkan apa yang telah mereka tulis. Karena, kalau hanya dengan membaca dan mentelaah, membutuhkan waktu yang banyak. Ini berbeda ketika duduk dengan seorang alim yang bisa menerangkan kepadanya dan menunjuki jalannya. Saya tidak mengatakan bahwa ilmu tidak akan didapat kecuali dari seorang guru, akan tetapi cara yang paling baik adalah mengambil ilmu dari para guru .”


Sumber :Kitabul Ilmi Dikutip dari majalh Asy-Syariah