Tampilkan postingan dengan label history of islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label history of islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 September 2011

Pusat-pusat Peradaban Islam : Baghdad



Kota Baghdad didirikan oleh Khalifah Abbasiyah kedua,Al-Manshur (754-775 M) pada tahun 762 M. setelah mencari-cari daerah yangstrategis untuk ibu kotanya, pilihan jatuh pada daerah yang sekarang dinamakanBaghdad, terletak di pinggir sungai Tigris. Al-Manshur sangat cermat dan telitidalam masalah lokasi yang akan dijadikan ibu kota. Ia menugaskan beberapa orangahli untuk meneliti dan mempelajari lokasi. Bahkan, ada beberapa orang diantara mereka yang diperintahkan tinggal beberapa hari di tempat itu padasetiap musim yang berbeda, kemudian para ahli tersebut melaporkan kepadanyatentang keadaan udara, tanah dan lingkungan. Setelah penelitian saksama itulah daerahini ditetapkan sebagai ibu kota dan pembangunan pun di mulai. Menurut ceritarakyat, daerah ini sebelumnya adalah tempat peristirahatan Kisra Anusyirwan,raja Persia yang masyhur, dimusim panas. Baghdad berarti “taman keadilan”.Taman itu lenyap bersama hancurnya kerajaan Persia. Akan tetapi nama itu tetap menjadikenangan rakyat.

Dalam pembangunan kota ini, Khalifah memperkenalkanahli bangunan yang terdiri dari arsitektur-arsitektur, tukang batu, tukangkayu, ahli lukis, ahli pahat dan lain-lain. Mereka didatangkan dari Syiria,Mosul, Basrah dan Kufah yang berjumlah sekitar 100.000 orang. Kota iniberbentuk bundar. Di sekelilingnya dibangun dinding tembok yang besar dantinggi. Di sebelah luar dinding tembok, digali parit besar yang berfungsisebagai saluran air dan sekaligus sebagai benteng. Ada empat buah pintu gerbangdi seputar kota ini, disediakan untuk setiap orang yang ingin memasuki kota. Keempatpintu gerbang itu adalah Bab al-Kufah, terletakdi sebelah barat daya, Bab al-Syam dibarat laut, Bab al-Bashrah ditenggara, dan Bab al-Khurasan ditimur laut. Di antara masing-masing pintu gerbang ini, di bangun 28 menarasebagai tempat pengawal Negara yang bertugas mengawasi keadaan di luar. Di atassetiap pintu gerbang dibangun suatu tempat peristirahatan yang dihiasi denganukiran-ukiran yang indah dan menyenangkan. Di tengah-tengah kota terletak istanaKhalifah menurut seni arsitektur Persia. Istana ini dikenal dengan nama al-Qashr al-Zahabi, berarti istana emas.Istana ini dilengkapi dengan bangunan masjid, tempat pengawal istana, polisi,dan tempat tinggal putra-putri dan keluarga Khalifah. Disekitar istana dibangunpasar tempat perbelanjaan. Jalan raya menghubungkan empat pintu gerbang.

Sejak awal berdirinya, kota ini sudah menjadi pusatperadaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. Itulah sebabnya, PhilipK. Hitti menyebutnya sebagai kota intelektual. Menurutnya, di antara kota-kotadunia, Baghdad merupakan professor masyarakat Islam. Al-Manshur memerintahkan penerjemahanbuku-buku ilmiah dan kesusastraan dari bahasa asing: India, Yunani lama, Bizantium,Persia, dan Syiria. Para peminat ilmu dan kesusastraan segeraberbondong-bondong datang ke kota ini.

Setelah masa al-Manshur, kota Baghdad menjadi lebihmasyhur lagi karena perannya sebagai pusat perkembangan peradaban da kebudayaanIslam. Banyak para ilmuwan dari berbagai daerah datang ke kota ini untukmendalami ilmu pengetahuan yang ingin dituntutnya. Masa keemasan kota Baghdadterjadi pada zaman pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyd (786-809 M) dan anaknyaAl-Ma’mun (813-833 M). Dari kota inilah memancar sinar kebudayaan dan peradabanIslam ke seluruh dunia. Prestise politik, supremasi ekonomi, dan aktivitasintelektual merupakan tiga keistimewaan kota ini. Kebesarannya tidak terbataspada negeri Arab, tetapi meliputi seluruh negeri Islam. Baghdad ketika itumenjadi pusat peradaan dan kebudayaan yang tertinggi di dunia. Ilmu pengetahuandan sastra berkembang sangat pesat. Banyak buku filsafat yang sebelumnya dipandangsudah “mati” dihidupkan kembali dengan di terjemahkan ke dalam bahasa Arab. KhalifahAl-Ma’mun memiliki perpustakaan yang dipenuhi dengan buku-buku ilmupengetahuan. Perpustakaan itu benama Baital-Hikmah.

Disampung itu, banyak berdiri akademi, sekolah tinggidan sekolah biasa yang memenuhi kota itu. Dua diantaranya yang terpentingadalah perguruan Nizhamiyyah, didirikan oleh Nizham Al-Mulk, wazir SultanSeljuk, pada abad ke-5 H dan perguruan Mustansiriyah, didirikan dua abadkemudian oleh Khalifah Mustanshir Billah.

Dalam bidang sastra, kota Baghdad terkenal denganhasil karya yang indah dan digemari orang. Di antara karya sastra yang terkenalialah Alf Lailah wa Lailah, atau kisahseribu satu malam. Di kota Baghdad ini, lahir dan muncul para saintis, ulama,filofof, dan sastrawan Islam yang terkenal, seperti al-Khwarizm (ahli astronomidan matematika, penemu ilmu aljabar, al-Kindi (filosof Arab pertama), al-Razi(filosof, ahli fisika dan kedokteran), al-Farabi (filosof besar yang dijulukidengan al-Mu’allim al-Tsani, gurukedua setelah Aristoteles), tiga pendiri madzhab hukum Islam (Abu Hanifah,Syafi’I, dan Ahmd ibn Hambal), Al-Ghazali (filosof, teolog, dan sufi besardalam Islam yang dijuluki dengan Hujjahal-Islam), Abd Al-Qadir Al-Jilani (pendiri tarekat qadariyah), Ibn Muqaffa’(sastrawan besar) dan lain-lain.

Dalam bidang ekonomi, perkembangannya berjalan seiringdengan perkembangan politik. Pada masa Harun Al-Rasyd dan Al-Ma’mun,perdagangan dan industry berkembang pesat. Kehidupan ekonomi kota ini didukungoleh tiga buah pelabuhan yang ramai dikunjungi para kafilah daganginternasional.

Banyaknya orang suci yang dikebumikan di dalam batasdan sekitar tembok kota dan makamnya menjadi pusat tempat ziarah bagi orangMuslim, menyebabkan kota Baghdad mendapat julukan Benteng Kesucian. Di sinilah istirahat Imam Musa Al-Kazhim (Imamketuju Syi’ah). Di sini pula dimakamkan Imam Abu Hanifah. Sebagai ibu kotakerajaan, tentu banyak pula yang dikebumikan di sini para khalifah danpermaisurinya.

Kota yang terletak di tepi Barat sungai Tigris itumuncul sebagai kota yang terindah dan termegah di dunia waktu itu. Pada masakegemilangannya, sebelum dihancurkan oleh tentara Mongol, kota itumemperlihatkan pemandangan yang elok dan mempesona.

Semua kemegahan, keindahan dan kehebatan kota Baghdaditu sekarang hanya tinggal kenangan. Semuanya seolah-olah hanyut di bawa arussungai Tigris, seolah kota ini dibumihanguskan oleh tentara Mongol di bawahpimpinan Hulagu Khan tahun 1258 M. Semua bangunan kota, termasuk istana emastersebut dihancurkan. Pasukan Mongol itu juga menghancurkan perpustakaan yangmerupakan gudang ilmu dan membakar buku-buku yang terdapat di dalamnya. Padatahun 1400 M, kota ini diserang pula oleh pasukan Timur Lenk, dan tahun 1508 Moleh tentara kerajaan Safawi. Kota Baghdad, ibu kota Irak sekarang, memangmengambil lokasi yang sama, tetapi ia sama sekali tidak mencerminkan kemajuanBaghdad lama.

Dr. Badri Yatim, M.A.”SejarahPeradaban Islam Dirasah Islamiyah II”.PT Raja GrafindoPersada.Jakarta:2008.

Sabtu, 10 September 2011

Saluran dan Cara-cara Islamisasi Di Indonesia


Kedatangan Islam dan penyebarannya kepada golonganbangsawan dan rakyat umumnya, dilakukan secara damai. Apabila situasi politiksuatu kerajaan mengalami kekacauan dan kelemahan disebabkan perebutan kekuasaandi kalangan keluarga istana, maka Islam dijadikan alat politik bagi golonganbangsawan atau pihak-pihak yang menghendaki kekuasaan itu. Mereka berhubungandengan pedagang-pedagang Muslim yang posisi ekonominya kuat karena menguasaipelayaran dan perdagangan. Apabila kerajaan Islam sudah berdiri, penguasanyamelancarkan perang terhadap kerajaan non-Islam. Hal itu bukanlah karena persoalanagama tetapi karena dorongan politis untuk menguasai kerajaan-kerajaan disekitarnya.

Menurut Uka Tjandrasasmita, saluran-saluran islamisasiyang berkembang ada enam, yaitu:

  1. Saluran Perdagangan
Pada taraf permulaan, saluran islamisasi adalahperdagangan. Kesibukan lalu lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 M.membuat pedagang-pedagang Muslim (Arab, Persia dan India) turut ambil bagiandalam perdagangan dari negeri-negeri bagian barat, tenggara dan Timur BenuaAsia. Saluran Islamisasi melalui perdagangan ini sangat menguntungkan karenapara raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan merekamenjadi pemilik kapal dan saham. Mengutip pendapat Tome Pires berkenaan dengansaluran Islamisasi melalui perdagangan ini di pesisir Pulau Jawa, Uka  Tjandrasasmita menyebutkan bahwa parapedagang Muslim banyak yang bermukim di pesisir pulau Jawa yang penduduknyaketika itu masih kafir. Mereka berhasil mendirikan masjid-masjid danmendatangkan mullah-mullah dari luar sehingga jumlah mereka menjadi banyak, dankarenanya anak-anak Muslim itu menjadi orang Jawa dan kaya-kaya. Di beberapatempat, penguasa-penguasa Jawa, yang menjabat sebagai bupati-bupati Majapahit yangditempatkan di pesisir utara Jawa banyak yang masuk Islam, bukan hanya karenafactor politik dalam negeri yang sedang goyah, tetapi terutama karena factorhubungan ekonomi dengan pedagang-pedagang Muslim.

  1. Saluran Perkawinan
Dari sudut ekonomi, para pedagnang Muslim memilikistatus social yang lebih baik daripada kebanyakan pribumi, sehingga pendudukpribumi, terutama putri-putri bangsawan, tertarik untuk menjadi istrisaudagar-saudagar itu. Sebelum kawin, mereka diislamkan terlebih dahulu. Setelahmereka mempunyai keturunan, lingkungan mereka makin luas. Akhirnya, timbul kampung-kampung,daerah-daerah dan kerajaan-kerajaan Muslim. Dalam perkembangan berikutnya, adapula wanita Muslim yang dikawani oleh keturunan bangsawan, tentu saja setelahyang terakhir ini masuk Islam terlebih dahulu. Jalur perkawinan ini lebih menguntungkanapabila terjadi antara saudagar Muslim dengan anak bangsawan atau anak raja dananak adipati, karena raja, adipati atau bangsawan itu kemudian turutmempercepat proses Islamisasi. Demikianlah yang terjadi antara Raden Rahmatatau Sunan Ampel dengan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan Nyai Kawunganten,Brawijaya dengan putri Campa yang menurunkan Raden Patah (raja pertama Demak)dan lain-lain.

  1. Saluran Tasawuf
Pengajar-pengajar tasawuf atau para sufi, mengajarkanteosofi yang bercampur dengan ajaran yang sudah dikenal luas oleh masyarakatIndonesia. Mereka mahir dalam soal-soal magis dan mempunyai kekuatan-kekuatanmenyembuhkan. Di antara mereka ada juga yang mengawini putri-putri bangsawansetempat. Dengan tasawuf, “bentuk” Islam yang diajarkan keada penduduk pribumimempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agamaHindu, sehingga agama baru itu mudah dimengerti dan diterima. Diantaraahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persaman dengan alampikiran Indonesia pra-Islam itu adalah Hamzah Fansuri di Aceh, Syeikh LemahAbang, dan Sunan Panggung di Jawa. Ajaran mistik seperti ini masih berkembangdi abad ke-19 bahkan di abad ke-20 M ini.

  1. Saluran Pendidikan
Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baikpesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai, danulama-ulama. Di pesantren atau pondok itu, calon ulama, guru agama, dan kiaimendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang kekampong masing-masing kemudian berdakwah ke tempat tertentu mengajarkan Islam. Misalnya,pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta Surabaya dan SunanGiri di Giri. Keluaran pesantren Giri ini banyak yang diundang ke Maluku untukmengajarkan agama Islam.

  1. Saluran Kesenian
Saluran Islamisasi melaui kesenian yang palingterkenal adalah pertunjukan wayang. Dikatakan, Sunan Kalijaga adalah tokoh yangpaling mahir dalam mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upahpertunjukan, tetapi ia meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkankalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih dipetik dari ceritaMahabharata dan Ramayana, tetapi di dalam cerita itu disisipkan ajaran dannama-nama pahlawan Islam. Kesenian-kesenian lain juga dijadikan alatIslamisasi, seperti sastra (hikayat, babad dan sebagainya), seni bangunan danseni ukir.

  1. Saluran Politik
Di Maluku dan Sulawesi Selatan, kebanyakan rakyatmasuk Islam setelah rajanya masuk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik rajasangat berpengaruh tersebarnya Islam di daerah ini. Di samping itu, baik diSumatera dan Jawa maupun di Indonesia bagian Timur, demi kempentingan politik, kerajaan-kerajaanIslam memerangi kerajaan-kerajaan non-Islam. Kemenangan kerajaan Islam secarapoltik banyak menarik penduduk kerajaan bukan Islam itu masuk Islam.

Dr. Badri Yatim, M.A.”SejarahPeradaban Islam Dirasah Islamiyah II”.PT Raja Grafindo Persada.Jakarta:2008.

Banten : Kerajaan Islam Kelima di Tanah Jawa



Sejak sebelum zaman Islam, ketika masihberada di bawahkekuasaan raja-raja Sunda (dari Pajajaran, atau mungkin sebelumnya), Bantensudah menjadi kota yang berarti. Dalam tulisan Sunda Kuno, cerita Parahyangan, disebut-sebutnama Wahanten Girang. Namun ini dapat duhubungkan dengan Banten, sebuah kotapelabuhan di ujung barat pantau utara Jawa. Pada tahun 1524 atau 1525, SunanGunung Jati dari Ciberbon, meletakkan dasar bagi pengembangan agama dan kerjaanIslam serta bagi perdagangan orang-orang Islam di sana.

Menurut sumber tradisional, penguasa Pajajaran diBanten menerima Sunan Gunung Jati dengan ramah tamah dan tertarik masuk Islam. Iameratakan jalan bagi kegiatan pengislaman di sana. Dengan segera ia mejadiorang yang berkuasa atas kota itu dengan bantuan tentara Jawa yang memangdimintanya. Namun, menurut berita Barros, penyebaran Islam di Jawa Barat tidakmelalui jalan damai, sebagaimana disebut oleh sumber tradisional. Beberapapengislaman mungkin terjadi secara sukarela, tetapi kekuasaan tidak diperoleh kecualidengan menggunakan kekerasan. Banten, dikatakan justru diserang dengantiba-tiba.

Untuk menyebarkan Islam di Jawa Barat, langkah SunanGunung Jati berikutnya adalah menduduki pelabuhan Sunda yang sudah tua, kira-kiratahun 1527. Ia memperluas kekuasaannya atas kota-kota pelabuhan Jawa Barat lainyang semula termasuk Pajajaran.

Setelah ia kembali ke cirebon, kekuasaannya atasBanten diserahkan kepada putranya, Hasanuddin. Hasanuddin sendiri kawin denganputeri Demak dan diresmikan menjadi Panembahan Banten tahun 1552. Ia meneruskanusaha-usaha ayahnya dalam meluaskan daerah Islam, yaitu ke Lampung dansekitarnya di Sumatera Selatan.

Pada tahun 1568, disaat kekuasaan Demak kembali beralihke Pajang, Hasanuddin memerdekakan Banten. Itulah sebabnya oleh tradisi iadianggap sebagai raja Islam pertama di Banten. Banten sejak semula memang merupakanvassal dari Demak. Hasanuddin mangkat kira-kira 1570 dan dig anti oleh anaknya,Yusuf. Setelah Sembilan tahun memegang tampuk keuasaan, tahun 1579, Yusufmenaklukan Pakuwan yang belum Islam yang waktu itu masih menguasai sebagianbesar daerah pedalaman Jawa Barat. Setelah itu ibukota kerajaan itu jatuh danraja beserta keluarganya menghilang, golongan bangsawan Sunda masuk Islam. Merekadiperbolehkan tetap menyandang pangkat dan gelarnya.

Setelah Yusuf meninggal pada tahun 1680 M, ia didigantikan oleh putranya, Muhammad, yang masih muda belia. Selama SultanMuhammad masih di bawah umur, kekuasaan pemerintahan dipegang oleh kali (Arab: qadhi, jaksa agung) bersama empat pembesar lainnya. Raja Bantenyang saleh itu, melanjutkan serangan terhadap raja Palembang dan gugur dalamusia 25 tahun pada 1596. Ia meninggalkan seorang anak yang berusia 5 bulan, SultanAbdul Mufakhir Mahmud Abdulkadir.

Sebelum memegang pemerintahan secara langsung, Sultanberturu-turut berada di bawah empat orang wali laki-laki dan seorang waliwanita. Ia baru aktif memegang kekuasaan tahun 1626, dan pada tahun 1638mendapat gelar Sultan dari Makkah. Dialah raja Banten yang pertama dengan gelarsultan yang sebenarnya. Ia meninggal tahun 1651 dan digantikann oleh cucunya,Sultan Abulfath Abdulfath.

Pada masa Sultan Abulfath Abdulfath ini terjadibeberapa kali peperangan antara Banten dan VOC yang berakhir dengandisetujuinya perjanjian perdamaian tahun 1659 M.

Dr. Badri Yatim, M.A.”SejarahPeradaban Islam Dirasah Islamiyah II”.PT Raja GrafindoPersada.Jakarta:2008.

Jumat, 09 September 2011

Cirebon : Kerajaan Islam Keempat di Tanah Jawa



Kesultanan Cirebon adalah kerajaan Islam pertama diJawa Barat. Kerajaan ini didirikan oleh Sunan Gunung Jati.

Di awal abad ke-16, Cirebon masih merupakan sebuahdaerah kecil di bawah kekuasaan Pakuan Pajajaran. Raja Pajajaran hanyamenempatkan juru labuhan di sana, bernama Pangeran Walangsungsang, seorangtokoh yang mempunyai hubungan darah dengan raja Pajajaran. Ketika berhasilmemajukan Cirebon, ia sudah menganut agama Islam. Disebutkan oleh Tome Pires, Islamsudah ada di Cirebon sekitar 1470-1475 M. akan tetapi, orang yang berhasilmeningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kerajaan adalah Syarif Hidayat yangdikenal dengan gelar Sunan Gunung Jati,  pengganti dan keponakan dari PangeranWalangsungsang. Dialah pendiri dinasti raja-raja Cirebon dan kemudian jugaBanten.

Sebagai keponakan dari Pangeran Walangsungsang, SunanGunung Jati juga mempunyai hubungan darah denganraja Pajajaran. Raja yangdimaksud adalah Prabu Siliwangi, yang nikah dengan Nyai Subang Larang 1422.Dari perkawinannya itu lahirlah tiga orang putra, masing-masing RadenWalangsungsang, Nyai Lara Santang, dan raja Sengara. Sunan Gunung Jati adalahputra Nyai Lara Santang dari perkawinannya dengan Maulana Sultan Mahmud aliasSyarif Abdullah dari Bani Hasyim, ketika Nyai itu naik haji.

Disebutkan, Sunan Gunung Jati lahir tahun 1448 M danwafat pada 1568 M dalam usia 120 tahun. Karena kedudukannya sebagai slahseorang Wali Songo, ia mendapat penghormatan dari raja-raja lain di Jawa,seperti Demak dan Pajang. Setelah Cirebon resmi bediri sebagai sebiah kerajaanIslam yang bebas dari kekuasaan Pajajaran, Sunan Gunung Jati berusaha meruntuhkankerajaan Pajajaran yang masih belum menganut Islam.

Dari Cierbon, Sunan Gunung Jati mengembangkan Islam kedaerah-daerah lain di Jawa Barat seperti Minangkabau, Kuningan, Kawali (Galuh),Sunda Kalapa, dan Banten. Dasar bagi pengembangan Islam dan perdagangan kaumMuslimin di Banten diletakkan oleh Sunan Gunung Jati tahun 1524 atau 1525 M.ketka ia kembali ke Cirebon, Banten diserahkan kepada anaknya, SultanHasanuddin. Sultan inilah yang menurunkan raja-raja Banten. Ditangan raja-rajaBanten tersebut, akhirnya, kerajaan Pajajaran dikalahkan. Atas prakarsa SunanGunung Jati juga penyerangan ke Sunda Kalapa dilakukan (1527 M). penyeranganini dipimin oleh Falatehan dengan bantuan tentara Demak.

Setelah Sunan Gunung Jati wafat, ia diganti olehcicitnya yang terkenal dengan gelar Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu. PanembahanRatu wafat tahun 1650 dan digantikan oleh putranya yang bergelar PanembahanGirilaya.

Keutuhan Cirebon sebagai satu kerajaan hanya sampaipangeran Giriliya itu. Sepeninggalnya, sesuia dengan kehendaknya sendiri, Cirebondiperintah oleh dua orang putranya, Martawijaya atau Panembahan Sepuh danKartawijaya atau Panembahan Anom. Panembahan Sepuh memimpin kesultanan Kasepuhansebagai rajanya yang pertama dengan gelar Samsuddin, sementara Panembahan Anom memimpinkesultanan Kanoman dengan gelar Badruddin.

Dr. Badri Yatim, M.A.”SejarahPeradaban Islam Dirasah Islamiyah II”.PT Raja GrafindoPersada.Jakarta:2008.

Mataram : Kerajaan Islam Ketiga Di Tanah Jawa



Awal dari kerajaan Mataram adalah ketika SultanAdiwijaya dari Pajang meminta bantuan kepada Ki Pamanahan yang berasal daridaerah pedalaman untuk menghadapi dan menumpas pemberontakan Aria Penangsangtersebut. Sebagai hadiah atasnya, sultan kemudian menghadiahkan daerah Mataramkepada Ki Pamanahan yang menurunkan raja-raja Mataram Islam kemudian.

Pada tahun 1577 M, Ki Gede Pamanahan menempati istanabarunya di Mataram. Dia digantikan oleh putranya, Senopati, tahun 1584 dandikukuhkan oleh Sultan Pajang. Senopatilah yang dipandang sebagai SultanMataram yang pertama, setelah Pangeran Benawa, anak Sultan Adiwijaya, menawarkankekuasaan atas Pajang kepada Senopati. Meskipun Senopati menolak dan hanyameminta pusaka kerajaan, diantaranya Gong Kiai Skar Dlima, Kendali Kiai MacanGuguh, dan Pelana Kiai Jatayu, namun dalam tradisi Jawa, penyerahan benda-bendapusaka itu sama artinya dengan penyerahan kekuasaan.


Senopati kemudian berkeinginan menguasai juga semua rajabawahan Pajang, tetapi ia tidak mendapat pengakuan dari para penguasa JawaTimur sebagai pengganti Raja Demak dan kemudian Pajang. Melalui perjuanganberat, peperangan demi peperangan, barulah ia berhasil menguasai sebagian.

Senopati meninggal dunia tahun 1601 M, dan digantikanoleh putranya Seda Ing Krapyak yang memerintah sampai tahun 1613 M. seda IngKrapyak diganti oleh putranya, Sultan Agung, yang melanjutkan usaha ayahnya.Pada tahun 1619, seluruh Jawa Timur praktis sudah berada di bawah kekuasaannya.Di masa pemerintahan Sultan Agung inilah kontak-kontak besenjata antarakerajaan Mataram dengan VOC mulai terjadi. Pada tahun 1603 M, Sultan Agungmenetapkan Amangkurat I sebagai putra Mahkota. Sultan Agung wafat pada tahun1646 M dan dimakamkan di Imogiri. Ia digantikan oleh putra mahkota. Masapemerintahan Amangkurat I hamper tidak pernah reda dari konflik. Dalam setiapkonflik, yang tampil sebagai lawan adalah mereka yang didukung oleh para ulamayang bertolak dari keprihatinan agama. Tindakan pertama pemerintahannya adalah menumpaspendukung Pangeran Alit dengan membunuh banyak ulama yang dicurigai. Ia yakinulama dan santri adalah bahaya bagi tahtanya. Sekitar 5000-6000 ulama besertakeluarganya dibunuh (1647 M). amangkurat I bahkan merasa tidak memerlukan title“Sultan”. Pada tahun 1677 M dan 1678 M, pemberontakan para ulama muncul kembalidengan tokoh spiritual Raden Kajoran. Pemberontakan-pemberontakan seperti itulahyang mengakibatkan runtuhnya Keraton Mataram.

Dr. Badri Yatim, M.A.”Sejarah PeradabanIslam Dirasah Islamiyah II”.PT Raja Grafindo Persada.Jakarta:2008.

Selasa, 06 September 2011

Demak : Kerajaan Islam Pertama Di Tanah Jawa



Perkembangan Islam di Jawa bersamaan waktunya denganmelemahnya posisi raja Majapahit. Hal itu member peluang kepadapenguasa-penguasa Islam di pesisir untuk membangun pusat-pusat kekuasaan yangindependen. Di bawah pimpinan Sunan Ampel Denta, Wali Songo bersepakatmengangkat Raden Patah menjadi raja pertama kerajaan Demak, kerajaan Islampertama di Jawa, dengan gelar Senopati Jimbun Ngabdurahman Panembahan PalembangSayidin Panatagama. Raden Patah dalam menjalankan pemerintahannya, terutama dalampersoalan-persoalan agama, dibantu oleh para ulama, Wali Songo. Sebelumnya, Demakyang masih bernama Bintaro merupakan daerah vasal Majapahit yang diberikan RajaMajapahit kepada Raden Patah. Daerah ini lambat laun menjadi pusat perkembanganagama Islam yang diselenggarakan oleh para wali.

Pemerintahan Raden Patah berlangsung kira-kira di akhirabad ke-15 hingga awal abad ke-16. Dikatakan, ia adalah seorang anak RajaMajapahit dari seorang ibu Muslim keturunan Campa. Ia digantikan oleh anaknnya,Sabrang Lor, dikenal juga dengan nama Pati Unus. Menurut Tome Pires, Pati Unusbaru berumur 17 tahun ketika menggantikan ayahnya sekitar tahun 1507.Menurutnya, tidak lama setelah naik tahta, ia merencanakan suatu seranganterhadap Malaka. Semangat perangnya semakin memuncak ketika Malaka ditaklukkanoleh Portugis pada tahun 1511. Akan tetapi, sekitar pergantian tahun 1512-1513,tentaranya mengalami kekalahan besar.

Pati Unus digantikan oleh Trenggono yang dilantiksebagai sultan oleh Sunan Gunung Jati dengan gelar Sultan Ahmad Abdul ‘Arifin. Iamemerintah pada tahun 1524-1546. Pada masa Sultan Demak yang ketiga inilahIslam dikembangkan ke seluruh tanah Jawa, bahkan sampai ke Kalimantan Selatan. PenaklukanSunda Kalapa berakir tahun 1527 yang dilakukan oleh pasukan gabingan Demak danCirebon di bawah pimpinan Fadhilah Khan. Majapahit dan Tuban jatuh ke bawahkekuasaan kerajaan Demak diperkirakan pada tahun 1527 itu juga. Selanjutnya,pada tahun 1529, Demak berhasil menaklukan Madiun, Blora (1530), Surabaya(1531), Pasuruan (1535), dan antara tahun 1541-1542 Lamongan, Blitar, Wirasaba,dan Kediri (1544). Palembang dari Banjarmasin mengakui kekuasaan Demak. Sementaradaerah Jawa Tengah sebagian Selatan sekitar Gunung Merapi, Pengging dan Pajangberhasil dikuasai berkat pemuka Islam, Syaikh Siti Jenar dan Sunan Tembayat.Pada tahun 1546, dalam penyerbuan ke Blambangan, Sultan Trenggono terbunuh. Iadigantikan adiknya, Prawoto. Masa pemerintahannya tidak berlangsung lamakarena, terjadi pemberontakan oleh adipati-adipati sekitar kerajaan Demak.Sunan Prawoto sendiri kemudian dibunuh oleh Aria Penangsang dari Jipang padatahun 1549. Dengan demikian, kerajaan Demak berakhir dan dilanjutkan olehkerajaan Pajang di bawah Jaka Tingkir yang berhasil membunuh Aria Penangsang.

Dr. Badri Yatim, M.A.”SejarahPeradaban Islam Dirasah Islamiyah II”.PT Raja GrafindoPersada.Jakarta:2008.

Pajang : Kerajaan Islam Kedua Di Tanah Jawa



Kesultanan Pajang adalah pelanjut dan dipandangsebagai pewaris kerajaan Islam Demak. Kesultanan yang terletak di daerahKartasura sekarang itu merupakan kerajaan Islam pertama yang terletak di daerahpedalaman pulau Jawa. Usia kesultanan ini tidak panjang. Kekuasaan dankebesarannya kemudian diambil alih oleh kerajaan Mataram.

Sultan atau raja pertama kesultanan ini adalah JakaTingkir yang berasal dari Pengging, di lereng Gunung Merapi. Oleh Raja Demakketiga, Sultan Trenggono, Jaka Tingkir diangkat menkado penguasa di Pajang,setelah sebelumnya dikawinkan dengan anak perempuannya. Kediaman penguasaPajang itu, menurut Babad, dibangun dengan mencontoh keraton Demak.

Pada tahun 1546, sultan Demak meninggal dunia. Setelahitu, muncul kekacauan di ibu kota. Konon, Jaka Tingkir yang telah menjadipenguasa Pajang itu dengan segera mengambil alih kekuasaan.  Karena anak Sulung Sultan Trenggono yangmenjadi pewaris tahta kesultanan, susuhan Prawoto, dibunuh oleh kemenakannya,Aria Penangsang yang waktu itu menjadi penguasa di Jipang (Bojonegorosekarang).

Setelah itu, ia memerintahkan agar semua benda pusakaDemak dipindahkan ke Pajang. Setelah menjadi raja yang paling berpengaruh dipulau Jawa, ia bergelar Sultan Adiwijaya. Pada masanya sejarah Islam di pulauJawa mulai dalam bentuk baru, titik politik pindah dari pesisir (Demak) kepedalaman. Peralihan pusat politik itu membawa akibat yang sangat besar dalamperkembangan peradaban Islam di Jawa.

Sultan Adiwijaya memperluas kekuasaan pemerintahannyadi tanah pedalaman ke arah Timur sampai daerah Madiun, di aliran anak sungaiBengawan Solo yang terbesar. Setelah itu, secara berturut-turut ia dapatmenundukkan Blora (1554) dan Kediri (1577). Pada tahun 1581, ia berhasilmendapatkan pengakuan sebagai Sultan Islam dari raja-raja perpenting di JawaTimur. Pada umumnya hubungan antara keratin Pajang dan raja-raja Jawa Timurmemang bersahabat.

Selama pemerintahan Sultan Adiwijaya, kekusastraan dankesenian yang sudah maju di Demak, dan Jepara lambat laun dikenal di pedalamanJawa. Pengaruh agama Islam yang kuat di pesisir dan menjalar tersebar ke daerahpedalaman.

Sultan Pajang meninggal dunia tahun 1587 dandimakamkan di Butuh, suatu daerah di sebelah barat taman kerajaan Pajang. Diadigantikan oleh menantunnya, Aria Pangiri, anak susuhan Prawoto tersebut diatas. Waktu itu, Aria Pangiri menjadi penguasa di Demak. Setelah menetap dikeratin Pajang, Aria Pangiri dikelilingi oleh pejabat-pejabat yang dibawanyadari Demak. Sementara itu, anak Sultan Adiwijaya, Pangeran Benawa, dijadikanpenguasa di Jipang.

Pangeran muda ini, karena tidak puas dengan nisabya ditengah-tengah lingkungan yang masih asing baginya, meminta bantuan kepadaSenopati, penguasa Mataram, untuk mengusir raja Pajang yang baru itu. Padatahun 1588, usahanya itu berhasil. Sebagai rasa terima kasih, Pangeran Benawamenyerahkan hak atas warisan ayahnya kepada Senopati. Akan tetapi, Senopatimenyatakan keinginannya untuk tetap tinggal di Mataram. Ia hanya meminta“pusaka kerajaan” Pajang. Mataram ketika itu memang sedang dalam proses menjadisebuah kerajaan yang besar. Pangeran Benawa kemudian dikukuhkan sebagai rajaPajang, akan tetapi berada dibawah perlindungan kerajaan Matara. Sejak itu, Pajangsepenuhnya menjadi berada di bawah kekuasaan Mataram.

Riwayat kerajaan Pajang berakhir tahu 1618. KerajaanPajang waktu itu memberontak terhadap Mataram yang ketika itu di bawah SultanAgung. Pajang dihancurkan, rajanya melarikan diri ke Giri dan Surabaya.

Dr. Badri Yatim, M.A.”SejarahPeradaban Islam Dirasah Islamiyah II”.PT Raja GrafindoPersada.Jakarta:2008.

Sabtu, 03 September 2011

Aceh Darussalam : Kerajaan Islam Kedua di Sumatera











Kerajaan Aceh terletak di daerah yang sekarang dikenal dengan nama
Kabupaten Aceh Besar. Di sini pula terletak ibu kotanya. Kurang begitu
diketahui kapan kerajaan ini sebenarnya berdiri. Anas Machmud berpendapat, kerajaan
Aceh berdiri pada abad ke-15 M, di tas puing-puing kerajaan Lamuri, oleh
Muzaffar Syah (1465-1697 M). dialah yang membangun kota Aceh Darussalam. Menurutnya, pada masa
pemerintahannya Aceh Darussalam mulai mengalami kemajuan dalam bidang perdagangan,
karena saudagar-saudagar Muslim yang sebelumnya berdagang dengan Malaka
memindahkan kegiatan mereka ke Aceh, setelah Malaka dikuasai Portugis (1511 M).
sebagai akibat penaklukkan Malaka oleh Portugis itu, jalan dagang yang
sebelumnya dari laut Jawa ke utara melalui Selat Karimata terus ke Malaka,
pindah melalui Selat Sunda dan menyusur pantai Barat Sumatera, terus ke Aceh.
Dengan demikian, Aceh menjadi ramai dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai
negeri.





Menurut H.J De Graaf, Aceh menerima Islam dari Pasai yang kini menjadi
bagian wilayah Aceh dan pergantian agama diperkirakan terjadi mendekati
pertengahan abad ke-14 M. Menurutnya, kerajaan Aceh merupakan penyatuan dari
dua kerajaan kecil, yaitu Lamuri dan Aceh Dar Al-Kamal. Ia juga berpendapat
bahwa rajanya yang pertama adalah Ali Mughayat Syah.





Ali Mughayat Syah meluaskan wilayah kekuasaannya ke daerah Pidie yang
bekerja sama dengan Portugis, kemudian ke Pasai pada tahun 1524 M. dengan
kemenangannya terhadap dua kerajaan tersebut, Aceh dengan mudah melebarkan
sayap kekuasaannya ke Sumatera Timur. Untuk mengatur daerah Sumatera Timur, raja
Aceh mengirim panglima-panglimanya, salah seorang diantaranya adalah Gocah,
pahlawan yang menurunkan sultan Deli dan Serdang.





Peletak dasar kebesaran kerajaan Aceh adalah Sultan Alauddin Riayat Syah
yang bergelar Al-Qahar. Dalam menghadapi bala tentara Portugis, ia menjalin
hubungan persahabatan dengan kerajaan Usmani di Turki dan Negara-negara Islam
yang lain di Indonesia. Dengan bantuan Turki Usmani tersebut, Aceh dapat
membangun angkatan perangnnya dengan baik. Aceh ketika itu tampaknya mengakui
kerajaan Turki Usmani sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dan kekhalifahan
dalam Islam.





Puncak kekuasaan kerajaan Aceh terletak pada masa pemerintahan Sultan
Iskandar Muda (1608-1637). Pada masanya Aceh menguasai pelabuhan di pesisir
Timur dan Barat Sumatera. Dari Aceh, Tanah Gayo yang perbatasan diislamkan, juga
Minangkabau. Hanya orang-orang kafir Batak yang berusaha menangkis
kekuatan-kekuatan Islam yang datang. Bahkan mereka melangkah begitu jauh sampai
minta bantuan Portugis. Sultan Iskandar Muda tidak terlalu bergantung kepada
bantuan Turki Usmani yang jaraknya jauh. Untuk mengalahkan Portugis, sultan
kemudian bekerja sama dengan musuh Portugis, yaitu Belanda dan Inggris.





Tidak seperti Iskandar Muda yang memerintah dengan tangan besinya, penggantinya,
Iskandar Tsani, bersikap lebih liberal, lembut dan adil. Pada masanya, Aceh
terus berkembang untuk masa beberapa tahun. Pengetahuan agama maju dengan pesat.
Akan tetapi, kematiannya diikuti oleh masa-maa bencana. Tatkala beberapa sultan
perempuan menduduki singgasana pada tahun 1641-1699, beberapa wilayah
taklukannya lepas dan kesultanan menjadi terpecah belah. Setelah itu, pemulihan
kembali kesultanan tidak banyak bermanfaat, sehingga menjelang abad ke-18 M
kesultanan Aceh merupakan bayangan belaka dari masa silam dirinya, tanpa
kepemimpinan dan kacau balau.





Dr. Badri
Yatim, M.A.”Sejarah Peradaban Islam
Dirasah Islamiyah II”
.PT Raja Grafindo Persada.Jakarta:2008.





Samudera Pasai : Kerajaan Islam Pertama di Sumatera










Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah Kerajaan Samudera
Pasai yang merupakan kerajaan kembar. Kerajaan ini terletak di pesisir Timur
Laut Aceh. Kemunculannya sebagai Kerajaan Islam di perkirakan mulai awal atau
pertengahan abad ke-13 M, sebagai hasil dari proses Islamisasi daerah-daerah
pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang Muslim sejak abad ke-7, ke-8,
dan seterusnya. Bukti berdirinya Kerajaan Samudera Pasai pada abad ke-13 itu
didukung oleh adanya nisan kubur terbuat dari granit asal Samudera Pasai. Dari
nisan itu, dapat diketahui bahwa raja pertama kerajaan itu meninggal pada bulan
Ramadhan tahun 696 H, yang diperkirakan bertepatan dengan tahun 1297 M.





Malik Al-Saleh, raja pertama itu, merupakan pendiri kerajaan tersebut. Hal
itu diketahui melalui tradisi Hikayat
Raja-raja Pasai
, Hikayat Melayu,
dan juga hasil penelitian atas beberapa sumber yang dilakukan sarjana-sarjana
Barat, khususnya para sarjana Belanda, seperti Snouck Hurgronye, J.P.
Molquette, J.L. Moens, J. Hushoff Poll dan lain-lain.





Dari segi peta politik, kemunculan kerajaan Samudera Pasai sejalan
dengan suramnya peranan maritime kerajaan Sriwijaya, yang sebelumnya memegang peranan
penting dikawasan Sumatera dan sekelilingnya.





Dalam Hikayat Raja-raja Pasai,
disebutkan gelar Malik Al-Saleh sebelum menjadi raja adalah Merah Sile atau
Merah Selu. Ia masuk Islam berkat pertemuannya dengan Syeikh Islamil, seorang
utusan Syarif Mekah, yang kemudian memberinya gelar Sultan Malik Al-Saleh. Nisan
kubur itu didapatkan di Gampong Samudera bekas kerajaan Samudera Pasai
tersebut.





Merah Selu adalah putra Merah Gajah. Nama Merah merupakan gelar
bangsawan yang lazim di Sumatera Utara. Selu kemungkinan berasal dari kata sungkala yang aslinya berasal dari Sanskrit Chula. Kepemimpinannya yang
menonjol menempatkan dirinya menjadi raja.





Dari hikayat itu, dapat petunjuk bahwa tempat pertama sebagai pusat
kerajaan Samudera Pasai adalah Muara Sungai Peusangan, sebuah sungai yang cukup
panjang dan lebar disepanjang jalur pantai yang memudahkan perahu-perahu dan
kapal-kapal mengayuhkan dayugnya ke pedalaman dan sebaliknya. Ada
dua kota yang
terletak bersebrangan di muara sungai Peusangan itu, Pasai dan Samudera. Kota
Samudera terletak agak lebih ke pedalaman, sedangkan kota Pasai terletak lebih ke muara. Di tempat
yang terakhir inilah terletak beberapa makan raja-raja.





Pendapat bahwa Islam sudah berkembang di sana sejak awal abad ke-13M,  didukung oleh berita Cina dan pendapat Ibn
Batutah, seorang pengembara terkenal dari Maroko, yang pada pertengahan abad
ke-14 M mengunjungi Samudera Pasai dalam perjalanannya dari Delhi ke Cina. Ketika
itu Samudera Pasai diperintah oleh Sultan Malik Al-Zahir, putra Sultan Malik
Al-Saleh. Menurut smber-sumber Cina, pada awal tahun 1282 M kerajaan kecil
sa-mu-ta-la (samudera) mengirim kepada raja Cina duta-duta yang disebut dengan
nama-nama muslim yaitu Hesein dan Sulaiman. Ibn Batutah menyatakan bahwa Islam
sudah hamper satu abad lamanya disiarkan di sana. Ia meiwayatkan kesalehan, kerendahan
hati, dan semangat keagamaan rajanya yang seperti rakyaktnya, menigkuti madzhab
Syafi’i. berdasarkan beritanya pula, kerajaan Samudera Pasai ketika itu
merupakan pusat studi agama Islam dan tempat berkumpul ulama-ulama dari berbagai
negeri Islam untuk berdiskusi berbagai masalah keagamaan dan keduniaan.





Dalam kehidupan perekonomiannya, kerajaan maritime ini, tidak mempunyai
basis agraris. Basis perekonomiannya adalah perdagangan dan pelayaran. Pengawasan
terhadap perdagangan dan pelayaran itu merupakan sendi-sendi kekuasaan yang
memungkinkan kerajaan memperoleh penghasilan dan pajak yang besar. Tome Pires
menceritakan, di Pasai ada mata uang dirham. Dikatakannya bahwa setiap kapal yang
membawa barang-barang dari Barat dikenakan pajak 6%. Samudera Pasai pada waktu
itu ditinjau dari segi geografis dan social ekonomi, memang merupakan suatu
daerah yang penting sebagai penghubung antara pusat-pusat perdagangan yang terdapat
di kepulauan Indonesia, India, Cina, dan
Arab. Ia merupakan pusat perdagangan yang sangat penting. Adanya mata uang itu
membutikan bahwa kerajaan in pada saat itu merupakan kerajaan yang makmur.





Mata uang dirham dari kerajaan Samudera Pasai tersebut pernah diteliti
oleh K.H.J Cowan untuk menunjukkan bukti-bukti sejarah raja-raja Pasai. Mata
uang tersebut menggunakan nama-nama Sultan Alauddin, Sultan Manshur Malik
Al-Zahir, Sultan Abu Zaid, dab Abdullah. Pada tahun 1973 M, ditemukan lagi 11
mata uang dirham diantaranya bertuiskan nama Sultan Muhammad Malik Al-Zahir, Sultan
Ahmad, dan Sultan Abdullah, semuanya adalah raja-raja Samudera Pasai pada abad
ke-14 dan 15 M.





Kerajaan Samudera Pasai berlangsung sampai tahun 1524 M. pada tahun 1521
M, kerajaan ini ditaklukkan oleh Portugis yang mendudukinya selama tiga tahun, kemudian
tahun 1524 M dianeksasi oleh raja Aceh, Ali Mughayatsyah. Selanjutnya, kerajaan
Samudera Pasai berada di bawah pengaruh kesultanan Aceh yang berpusat di Bandar
Aceh Darussalam.





Dr. Badri
Yatim, M.A.”Sejarah Peradaban Islam
Dirasah Islamiyah II”
.PT Raja Grafindo Persada.Jakarta:2008.


Selasa, 30 Agustus 2011

Abu Bakr’s Succession













Abu Bakr soon confronted two new threats: the secession of man of the tribes that had joined the
ummah after 630 and
the appearance among them of other prophet figures
who claimed continuing guidance from God. In withdrawing, the tribes appear to have been able to
distinguish
loyalty to Muhammad from full acceptance
of the uniqueness
and permanence of his message. The
appearance of
other prophets illustrates a general
phenomenon in the
history of religion: the volatility of
revelation as a source
of authority. When successfully claimed,
it has almost no
competitor; once opened, it is difficult
to close; and, if it
cannot be contained and focused at the
appropriate
moment, its power disperses. Jews and
Christians had
responded to
this dilemma in their own ways; now it was
the turn of the
Muslims, whose future was dramatically
affected by Abu Bakr’s response. He
put an end to revelation
with a combination of military force
and coherent
rhetoric. He
defined withdrawal from Muhammad’s coalition
as ingratitude
to or denial of God (the concept of
kufr. Thus he gave secession (riddah) cosmic
significance as an
act of apostasy punishable, according to God’s
revealed
messages to
Muhammad, by death. He declared that the
secessionists had become Muslims, and
thus servants of
God, by joining
Muhammad. They were not free not to be
Muslims, nor could they be Muslims,
and thus loyal to
God, under any
leader whose legitimacy did not derive
from Muhammad. Finally, he declared
Muhammad to be
the last prophet
God would send, relying on a reference to
Muhammad in one of the revealed
messages as
khatm alanbiya’ (“seal of the
prophets”). In his ability to interpret
the events of his reign from the
perspective of Islam, Abu
Bakr demonstrated the power of the
new conceptual
vocabulary
Muhammad had introduced.





Had Abu Bakr not asserted the
independence and
uniqueness of
Islam, the movement he had inherited could
have been
splintered or absorbed by other monotheistic
communities or
by new Islam-like movements led by other
tribal figures. Moreover, had he not
quickly made the ban
on secession and intergroup conflict yield material
success,
his chances for
survival would have been very slim, because
Arabia’s
resources could not support his state. To provide
an adequate
fiscal base, Abu Bakr enlarged impulses present
in pre-Islamic
Mecca and in the
ummah. At his death he was beginning
to turn his followers to raiding non-
Muslims in the only direction where
that was possible, the
north. Migration into Syria and Iraq already had a
long
history; Arabs,
both migratory and settled, were already
  present there. Indeed, some of them were already launching raids
when ‘Umar I, Abu Bakr’s acknowledged
successor, assumed the caliphate in
634. The ability of the
Medinan state to absorb random action into a
relatively
centralized
movement of expansion testifies to the strength
of the new
ideological and administrative patterns inherent
in the concept
of
ummah.





The fusion of two once separable
phenomena, membership
in Muhammad’s community and faith in Islam—the mundane and the
spiritual—would become one of Islam’s
most distinctive features. Becoming
and being Muslim
always involved
doing more than it involved believing.
On balance, Muslims have always
favoured orthopraxy
(correctness of practice) over orthodoxy (correctness
of
doctrine). Being
Muslim has always meant making a commitment
to a set of
behavioral patterns because they
reflect the right orientation to God.
Where choices were
later posed, they were posed not in terms of religion
and
politics, or
church and state, but between living in the
world the right
way or the wrong way. Just as classical
Islamicate languages developed no
equivalents for the
words religion and politics, modern European languages have developed
no adequate terms to capture the choices
as Muslims have posed them.





Riddah





The riddah wars, or wars of apostasy, were a
series of politicoreligious
uprisings in various parts of Arabia
in about 632 CE
during the
caliphate of Abu Bakr.
In spite of the traditional resistance of the Bedouins
to
any restraining
central authority, by 631 Muhammad was able
to exact from
the majority of their tribes at least nominal
adherence to
Islam, payment of the
zakat, a tax levied on Muslims to
support the poor, and acceptance of Medinan
envoys. In March
632, in what Muslim historians later called
the first
apostasy, or
riddah, a Yemeni tribe
expelled two
of Muhammad’s
agents and secured control of Yemen.
Muhammad died three months later, and
dissident tribes,
eager to
reassert their independence and stop payment of the
zakat, rose in
revolt. They refused to recognize the authority of
Abu Bakr,
interpreting Muhammad’s death as a termination
of their
contract, and rallied instead around at least four rival
prophets.





Most of Abu Bakr’s reign was consequently occupied with riddah wars, which
under the generalship of Khalid ibn al-
Walid not only brought the
secessionists back to Islam but
also won over many who had not yet
been converted. The
major campaign was directed against Abu Bakr’s
strongest
opponent, the
prophet Musaylimah and his followers in
Al-Yamamah. It culminated in a
notoriously bloody battle at
‘Aqraba’ in eastern Najd (May 633),
afterward known as the
Garden of Death. The encounter cost the Muslims the
lives of
many ansar (“helpers”;
Medinan Companions of the Prophet)
who were invaluable for their
knowledge of the Qur’an, which
had been revealed to the Prophet,
recited to his disciples, and
memorized by them but not yet written
down. Musaylimah
was killed, the
heart of the
riddah opposition was
destroyed,
and the strength
of the Medinan government was established.
Sometime between
633 and 634 Arabia was finally reunited under
the caliph, and
the energy of its tribes was diverted to the conquest
of Iraq, Syria,
and Egypt.





Islamic history / edited by Laura S.
Etheredge
. Britannica Educational Publishing


(a
trademark of Encyclopædia Britannica, Inc.)
: New York.