Selasa, 05 Juli 2011

Hal-hal Yang Dapat Membantu Dalam Menuntut Ilmu



Ada beberapa hal yang seyogyanya seorang penuntut ilmu menghiasi diri dengannya, karena hal itu akan membantu dia dalam mencari ilmu atau mengokohkan ilmunya. Diantaranya :

1.     Bertaqwa kepada Allah SWT

Dalam firmanNya, “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Allah maka allah akan menjadikan untuk kalian furqon (pembeda) “ (QS. Al Anfaal;29). Dijelaskan oleh Ibnu Utsaimin, Allah akan menjadikan bagi kalian sesuatu yang bisa kalian pakai untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, manfaat dan mudharat, dan ini masuk didalamnya ilmu. Dimana Allah akan membukakan untuk seseorang ilmu-ilmu yang tidak dibukakan untuk selainnya. Karena dengan bertaqwa akan diperoleh petunjuk, tambahan ilmu, dan tambahan hapalan. 

Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Belajarlah, barangsiapa telah berilmu maka hendaklah beramal “. Beliau juga berkata, “Sungguh aku menyangka bahwa seseorang akan lupa ilmunya dengan sebab dosa yang dia lakukan “ (Adab Syar’iyyah)

2.     Memulai dengan yang lebih penting

Hal ini disebabkan karena terbatasnya kesempatan dan kemampuan, sementara ilmu yang akan dituntut sangat banyak. Ada sebuah ucapan dari seorang penyair:
Ilmu itu jika kamu cari sangat banyak
Sedang umur untuk mendapatkannya terlalu pendek
Maka mulailah dengan yang paling penting

3.     Sabar dan kontinyu dalam menuntut ilmu

Yahya bin Abi Katsir al Yamami berkata, “Ilmu itu tidak bisa didapat dengan jasmani yang santai “ (Riwayat Muslim dalam kitab Masajid Bab Auqat Shalawat Khams). Demikian pula sebagian salaf mengatakan, “Ilmu, jika engkau berikan seluruh dirimu untuknya, dia akan memberimu sebagiannya.” Begitulah para ulama terdahulu, mereka tidak mencapai derajat yang mereka capai kecuali dengan kesabaran dan kesinambungan dalam menuntut ilmu. Sufyan Ats Tsauri berkata, “Kita akan belajar terus selama kita mendapati ada yang mengajari kita “ (Adab Syar’iyyah)

4.     Menulis

Yakni menulis ilmu yang diperoleh baik dalam kajian atau dari bacaan atau yang lain. Dan jangan menerima ilmu hanya sepintas lalu karena hal ini akan menghilangkan ilmu yang didapat

5.     Menjaga Ilmu
Diantaranya dengan menjaga catatan. Oleh karena itu, semestinya menulis ilmu tersebut pada buku catatan yang layak, bukan sembarang kertas, sehingga hal ini akan membantu dia untuk menjaganya. Atau menjaga ilmu tersebut dengan menghapalnya sebagaimana yang dilakukan para ulama terdahulu maupun sekarang.

6.     Mulazamah

Yakni berguru kepada seorang ulama dan bersamanya dalam waktu yang lama. Ibnu Utsaimin menjelaskan, “Wajib bagi setiap penuntut ilmu untuk memohon pertolongan kepada Allah kemudian minta bantuan kepada para ulama dan memanfaatkan apa yang telah mereka tulis. Karena, kalau hanya dengan membaca dan mentelaah, membutuhkan waktu yang banyak. Ini berbeda ketika duduk dengan seorang alim yang bisa menerangkan kepadanya dan menunjuki jalannya. Saya tidak mengatakan bahwa ilmu tidak akan didapat kecuali dari seorang guru, akan tetapi cara yang paling baik adalah mengambil ilmu dari para guru .”


Sumber :Kitabul Ilmi Dikutip dari majalh Asy-Syariah

Hal-hal Yang Harus Dihindari Dalam Menuntut Ilmu



 Ada beberapa hal yang harus dihindari oleh seorang penuntut ilmu, karena perkara-perkara tersebut ibarat penyakit ganas yang menjangkiti seorang pasien. Jika tidak menghindarinya, maka ia akan binasa.

1.     Hasad

Yaitu membenci apa yang Allah karuniakan atas seorang hamba. Hampir tidak seorangpun yang lepas dari sifat ini. Maka jika sifat ini melekat pada seseorang, diwajibkan atas manusia untuk tidak berbuat jahat kepadanya dengan perkataan atau perbuatan.

2.     Berfatwa tanpa ilmu

Fatwa adalah kedudukan yang agung. Oleh karenanya, tidak boleh sembarangan dilakukan kecuali oleh pribadi yang benar-benar pantas. Imam Ahmad berkata, “Sesungguhnya orang yang berfatwa kepada manusia, ia telah membawa urusan yang besar. Semestinya orang yang berfatwa mengetahui pendapat-pendapat ulama yang terdahulu. Kalau tidak, jangan berfatwa. Barangsiapa berbicara pada sesuatu yang dia tidak memiliki sandaran atas hal tersebut, saya khawatir dia akan salah.”

3.     Sombong

Nabi SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga siapa yang terdapat dalam hatinya seberat dzarrah (atom) dari kesombongan.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan seseorang yang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus?" Nabi SAW menjawab, “Sesungguhnya Allah indah dan mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (Shahih, HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud)

4.     Ta’ashub

Yaitu fanatik baik kepada golongan, guru, kelompok, organisasi tertentu, syiar tertentu atau yang semacamnya. Karena hal ini adalah syiar atau ciri khasnya ahlul bid’ah yang menyimpang dari jalan Nabi SAW, yang merupakan sifat tercela apalagi pada seorang penuntut ilmu. Seorang penuntut ilmu syar’I semestinya menjadikan ittiba’ kepada Nabi Saw sebagai syiar yang selalu ia junjung tinggi, ia jadikan syiar itu sebagai landasannya dalam berwala’ (loyalitas) dan berbara’ (berlepas diri).


5.     Tashaddur

Yaitu tampil sebelum waktunya, karena hal ini menunjukkan kebanggaannya pada diri sendiri dan ketidaktahuannya pada banyak permasalahan. Ini akan mengakibatkan dia terjerumus kepada dosa yang besar yaitu berkata tentang agama Allah tanpa ilmu yaitu mengatakan sebuah hukum dengan mengatasnamakan ini adalah hukum Allah SWT tanpa dilandasi ilmu yang benar dan akan membawa dia kepada sifat sombong.

6.     Bersu’udzon

Atau berburuk sangka kepada yang lain. “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian dari banyak sangkaan. “ (QS. Al Hujuraat;79)

Sumber :Kitabul Ilmi Dikutip dari majalh Asy-Syariah

Ciri-ciri Tukang Sihir


 
Apabila salah satu tanda di bawah ini terdapat pada salah seorang yang biasa mengobati, maka tidak ragu lagi, dia adalah tukang sihir. Tanda-tanda itu adalah :

·           Bertanya kepada pasien (yang kena sihir) tentang namanya dan nama ibunya.

·           Meminta satu benda “bekas” pasien yang mengandung bau keringatnya, seperti pakaian, peci, sapu tangan dan lain-lain.

·           Meminta seekor hewan dengan sifat-sifat tertentu untuk disembelih tanpa menyebut nama Allah. Terkadang darah hewan itu dioleskan pada bagian tubuh pasien yang terasa sakit, atau hewan tersebut dibuang ke suatu tempat yang tidak berpenghuni (puing-puing).

·           Menuliskan mantera-mantera.

·           Membaca mantera-mantera yang tidak dimengerti.

·           Memberi kain penutup (hijab) kepada pasien, untuk menutupi gambar segi empat, yang di dalamnya terdapat huruf-huruf atau angka-angka.

·           Memerintahkan kepada pasien agar memisahkan diri dari orang banyak dalam masa tertentu di suatu ruangan yang tidak tembus cahaya matahari.

·           Meminta pasien agar menyentuh air dalam waktu tertentu—biasanya selama 40 hari. Permintaan demikian menunjukkan bahwa jin yang melayani tukang sihir itu adalah jin Nasrani.

·           Memberikan sesuatu kepada pasien untuk dikubur dalam tanah.

·           Memberikan pasien kertas-kertas untuk dibakar dan melakukan pengasapan.

·           Berkomat-kamit dengan ucapan yang tidak dimengerti.

·           Kadang-kadang tukang sihir memberitahu pasien tentang namanya, nama negerinya (tempat asalnya), dan kesulitan (problem) yag menyebabkan ia datang.

·           Menuliskan huruf-huruf terpisah pada selembar kertas atau pada piring yang terbuat dari tembikar putih, dan menyuruh pasien untuk menghancurkannya dengan air, lalu meminumnya.

Apabila Anda mengetahui, bahwa seseorang itu adalah tukang sihir, jauhilah dia. Karena jika tidak, maka Anda  akan terkena ancaman hadits Nabi saw yang menegaskan, “Barangsiapa yang mendatangi seorang dukun, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka dia telah kufur terhadap wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.”

Wahid Abdussalam Baly.Ilmu Sihir dan Penangkalnya.Logos.Jakarta Selatan:1995.