Jumat, 05 Agustus 2011

Sukses dengan 7B




Rahasia kesuksesan dengan 7B kalau dipakai Insya Allah sukses
diri akan pula berperan menyukseskan orang lain, manfaat dunia, manfaat
akherat Kalau tahapan ini dilakukan dengan baik Insya Allah kita akan
bangkit ! lingkungan bangkit ! Indonesia akan bangkit !

1.  Beribadah dengan benar.

Jika hidup tanpa ibadah yang benar ibarat hidup tanpa pondasi, bangunan
tanpa pondasi akan roboh Dengan beribadah dengan benar Insya Allah
akan membuat kita semakin tawadhu dan kokoh kepada Allah 

2. Berakhlak Baik.

Ibadah bagus siang malam, tapi selesai sholat mulut kotor, tidak jujur,
apalah artinya ibadah ,kalau tidak dibarengi akhlak baik.

3.  Belajar tiada henti.

Akhlak sudah baik,ibadah bagus tapi itu tidak cukup karena masalah akan
bertambah ,potensi konflik bertambah,kebutuhan semua bertambah,
bagaimana mungkin menyikapi segala yang makin ruwet dengan ilmu yang
tidak bertambah Ciri sukses adalah orang-orang yang cinta ilmu dengan
belajar. 

4.  Bekerja keras dengan cerdas dan ikhlas.

Yang harus standar ada pada diri kita adalah bekerja optimal dengan
pemikiran yang cerdas karena ada yang kerja keras tetapi akal tidak
digunakan akibatnya cuma jadi pekerja keras saja

5.  Bersahaja dalam hidup.

Ada orang yang bekerja keras tetapi sia-sia, karena ditipu oleh
keborosan, bermegah-megah , diperdaya,dikutuk oleh orang lain ,dan
menjadi kedengkian. kenapa? Karena tidak bersahaja , padahal akibat
gemar bersahaja maka kemampuan keuangan kita lebih tinggi diatas
kebutuhan sehingga bisa menyimpan uang,bersadaqoh, dan berinvestasi ,
budaya masyarakat kita diharapkan bukan budaya punya barang, tapi
budaya berinvestasi akibatnya selalu punya nilai tambah 

6.  Bantu sesama

Alat ukur sukses kita setelah bersahaja adalah punya kelebihan untuk
memajukan sanak saudara anak paman, tetangga kiri, tetangga kanan,
depan belakang, anak pembantu. Kesuksesan kita mulai diukur dengan
kemampuan membantu orang lain ,membuat lapangan kerja sebanyak mungkin,
kita harus terus berbuat dengan kerja keras membantu banyak
orang ,sehingga orang lain lebih maju lagi dengan mepunyai tata nilai
yang sama, ibadah yang bagus, akhlak yang bagus, terus berusaha untuk
belajar menambah ilmu, bekerja keras Dengan saling tolong-menolong
Insya Allah akan terjadi sinergi ,agar bergeraknya bangsa ini seimbang
tidak hanya satu dua orang, karena alat ukur kesuksesannya sama, pola
sama, kita mengharapkan kebangkitan ,kalau ada mahasiswa yang pintar
lihat juga tetangganya terbawa pintar atau tidak ? kalau ada dosen
brilian jangan lihat dosennya tapi lihatlah keluarganya, lihat
tetangganya, lihat sanak saudaranya, kalau hanya dia sendiri yang maju
belum begitu sukses, kalau ada pengusaha kaya brilian punya perusahaan
raksasa ,lihat kiri kanannya,lihat kesejahteraan kawannya .Kalau dia
yang sukses sendirian berarti belum sukses. Alat ukur sukses bukan
dengan melejit sendiri , tapi bagaimana kita mengangkat dan membantu
yang lain. 

7.  Bersihkan hati selalu. 
Mengapa ? Allah tidak menerima amal, kecuali ikhlas,jangan merasa
ujub ,dengan tidak merasa berjasa,dengan tidak merasa paling
bisa,dengan tidak merasa paling mulia, tetapi semuanya karena Allah,
Alhamdullilah. Semua ini adalah karunia Allah kita harus merasa
beruntung karena dijadikan jalan ; jalan rezeki bagi tetangga,jalan
ilmu bagi mahasiswa, jalan kesuksesan bagi semuanya ,Allah-lah Yang
Memberi. 

Inilah orang yang akan sukses , karena dia tidak menjadi sombong,apalah
artinya kita mendapatkan banyak hal kalau kita tidak mendapat ridlo
dari Allah karena kesombongan kita. Dengan beribadah dengan benar,
membuat kita semakin tawadhu ,kokoh mengabdi kepada Allah, hati
tentram, kehidupan akan seimbang.

Wallahu’alam

Sumber : aA Gym

Dua Jalan Manuju Makrifat Kepada Allah



Allah swt telh mengajak kepada para hamba-Nya agar bermakrifat kepada-Nya dengan dua jalan, yaitu:

1.    Melihat terhadap perbuatan-Nya.
2.    Berfikir kepada ayat (tanda) kekuasaan-Nya dan sekaligus menelitinya.

Itu adalah tanda kekuasaan yang bias ditangkap oleh panca indera, dan merupakan tanda kekuasaan yang rasional. Bagian pertamanya adalah seperti disebutkan oleh Allah di dalam firman-Nya berikut ini:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berjalan di lautan dengan membawa barang yang bermanfaat kepada khalayak manusia, dan air yang diturunkan Allah dari langit (berupa air hujan), yang bias menghidupkan bumi setelah matinya (bias menumbuhkan pepohonan dan tanaman, padahal asalnya gersang), lalu binatang disebarkan di bumi dan diciptakan hembusan angin, awan yang berarak antara langit dan bumi, kesemuanya itu sebagai tanda atas kekuasaan Allah bagi kaum yang mau menggunakan akal pikirannya. (Al-Baqarah, 164)

Ayat seperti yang telah disebutkan di atas amat banyak jumlahnya di dalam al-qur’an. Yaitu, beberapa hal yang telah menunjukkan terhadap perbuatan, serta perbuatan menunjukkan sifat. Dengan kata lain, bahwa hal yang dibuat menunjukkan kepada hamba-Nya. Hal itu mengharuskan bagi adanya wujud-Nya, kehendak-Nya, dan juga ilmu-Nya. Karena tidak mungkin terjadi perbuatan keluar dari barang yang tidak ada; atau barang wujud yang tidak memiliki kemampuan, hidup, ilmu, dan tidak memiliki iradah (kehendak).

Kemudian barang ciptaan yang begitu banyak dan juga memiliki beberapa keistimewaan yang berlainan ini menunjukkan adanya kehendak dari sang penciptanya. Dan sesungguhnya ciptaan tersebut  tidak hanya satu, dan tidak pula berulang-ulang (dalam substansi yang sama).

Yaitu, ciptaan yang terdapat beberapa hikmah, serta kemaslahatan, dan tujuan terpiji menunjukkan atas kebijaksanaan-Nya.

Atau ciptaan yang memiliki unsur kemanfaatan, serta perbaikan dan lainnya, dimana hal itu menunjukkan akan belas kasih-Nya.

Atau ciptaan yang memiliki kukuatan fisik, yakni kuat untuk membalas dan memberi penyiksaan, dimana hal itu menunjukkan sifat marah-Nya.

Atau ciptaan yang memiliki kemuliaan, pendekatan serta perhatian, dimana hal ini menunjukkan adanya sifat marah dan juga benci-Nya.

Atau ciptaan yang dimulai dengan sangat kurang dan lemah, lalu berevaluasi sampai sempurna, dimana hal itu menunjukkan bagi adanya hari kebangkitan.

Atau ciptaan yang menggambarkan tentang keadaan tanaman dan beberapa air yang berganitan menunjukkan adanya kemungkinan hari kebangkitan.

Atau ciptaan yang terdapat beberapa kesan belas kasih dan kenikmatan terhadap makhluk-Nya, dimana hal itu termasuk tanda keabsahan Nubuwah.

Atau ciptaan yang terdapa beberapa kesempurnaan yang apabila tidak memilikinya, maka akan tampak kurang sebagai bukti bahwa pemberi kesempurnaan ini lebih sempurna kedudukannya.

Jadi, ciptaan-Nya inilah yang merupakan permulaan sesuatu yang menunjukkan sifat-sifat-Nya, dan kebenaran apa yang telah dikatakan oleh para Rasul. Ciptaan yang bias dilihat ini bias dibuat sebagai dasar untuk membenarkan kepada ciptaan yang hanya bias ditangkap dengan panca indra.

Dia (Allah) lebih dikenal daripada hal yang dikenal dan lebih jelas keberadaan-Nya dari segala apa yang jelas di alam ini.

Segala sesuatu bisa di ketahui karena Allah menurut hakikat-Nya, sekalipun secara teori Allah bisa dikenal dengan cara melihat dan mencari bukti terhadap perbuatan dan hukum-Nya.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.Memetik Manfaat Al-Qur’an. Daar Al Yaqiin li An Nasyar wa At Tauzii’, Mesir, Al Manshur.2000.




Kamis, 04 Agustus 2011

Memandang Surat Al-Fatihah



Manusia itu mempunyai dua kekuatan, yaitu:
1.    Kekuatan ilmiyah, nadhariyah.
2.    Kekuaatan praktisi dan iradi.

Kebahagiaan yang mutlak bagi manusia itu terserah atas kesempurnaan dua kekuatan yang berada dalam dirinya,, baik yang bersifat ilmiah maupun iradiyah (amaliah). Kesempurnaan kekuatan ilmiah ini dapat ditempuh dengan makrifat kepada pencipta-Nya, makrifat kepada nama-nama-Nya, sifat-Nya, mengetahui jalan yang menuju kepada-Nya, mengetahui beberapa hambatan yang ada padanya, lalu mengenali diri dan aibnya sendiri.

Makrifat yang lima, sebagaimana telah disebutkan di atas, bias menyempurnakan kekuatan ilmiah. Manusia paling alim adalah mereka yang paling mengerti dan paling memahami lima sifat tersebut. Kesempurnaan iradi dan ilmiah dimaksud tidak akan bias tercapai, kecuali dengan memelihara hak Allah terhadap hamba. Lalu bias melaksanakannya secara ikhlas, jujur, mau member nasehat, berbuat baik, dan setelah itu menyaksikan beberapa nikmat yang telah Allah  berikan kepadanya. Lalu mau melihat kepada sikap keteledoran dirinya (intropeksi) untuk menunaikan hak-Nya. Lalu ia merasa malu untuk menghadap kepada-Nya dengan pelayanan yang serba kurang itu.

Dengan demikian, kesepnurnaan kekuatan manusia tidak akan bias tercapai, kecuali dengan menempuh beberapa hal di atas, dan hal itu telah terkumpul dalam diri manusia tersebut. Sesungguhnya kekuatan yang dimaksud telah terkandung dalam surat Al-Fatihah, lalu ditertibkan secara baik.
Sebagaimana Allah swt berfirman:

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di hari Pembalasan. (Al-Fatihah, 2-4)

Ayat-ayaat tersebut telah mengandung dasar permulaan dari makrifat kepada Allah. Yaitu makrifat terhadap asma (nama) dan sifat serta perbuatan-Nya.

Nama-nama Allah swt tersebut dalam ayat di atas merupakan pokok dari asmaul husna. Yaitu nama Allah Ar-Rabb, Ar-Rahman dan sebagainya.

Nama-nama Allah yang dimaksud mengandung arti Rububiyah. Disamping itu, nama-nama Allah yang dimaksud juga mengandung arti Uluhiyah. Adapun perinciannya adalah bahwa nama Ar-Rabb mengandung arti Rububiyah. Sedangkan nama Allah, Ar-Rahman, mengandung arti sifat Yang Maha Baik, konsisten dan berbuat segala sesuatu yang bersifat memberikan pertolongan. Dan makna nama-Nya yang dimaksud hanya beraviliasi dengan segala sesuatu yang baik pula.
Sebagaimana Allas swt berfirman:

Hanya Engkaulah yang kami sembah[6], dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. (Al-Fatihah, 5)

Ayat tersbut mengandung makrifat untuk mengetahui jalan menuju kepada-Nya. Dan tiada jalan yang bias mengarah kepada-Nya kecuali dengan menempuh ibadah yang murni hanya untuk-Nya. Yaitu, dengan menjalankan apa yang diperintahkan-Nya. Setelah itu meminta pertolongan untuk dapat beribadah kepada-Nya. Sebagaimana dituntunkan di dalam firman-Nya:

Tunjukkan kepada kami jalan yang lurus. (Al-Fatihah, 6)

Ayat tersebut mengandung pengertian, bahwa seseorang tidak akan bisa mencapai kebahagiaan, kecuali dengan mengikuti jalan-Nya yang lurus; dan tidak akan mampu untuk berpijak kepada ajaran yang lurus, kecuali mendapat sinar petunjuk-Nya. Sebagaimana Allah swt berfirman:

Bukan jalan orang-orang yang Engkau benci, dan juga bukan jalan orang-orang yang telah tersesat. (Al-Fatihah, 7)

Ayat tersebut menjelaskan mengenai dua jalan yang menyimpang, yakni jalan kesesatan dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Berpihak kepada salah satu jalan yang menyimpang tersebut, berarti berpihak kepada kesesatan dan kebinasaan. Dimana ia berarti kerusakan ilmu dan itikad. Demikan pula ketika seseorang berpihak pada jalan kesesatan yang lain, maka berarti mengantarkan dirinya untuk dimurkai oleh Allah swt. Sebabnya adalah adanya noda dalam niat dan amal perbuatan yang dilakukan.

Dalam surat Al-Fatihah, pada permulaannya mengandung rahmat, pada pertengahannya mengandung hidayah dan pada bagian akhirnya mengandung nikmat. Sementara bagian atas seorang hamba atau suatu nikmat itu terserah pada sinar hidayah yang ia terima. Sedangkan bagian hidayah atas seorang hamba terserah pada bagian rahmat-Nya. Jadi, seluruhnya itu berkisar pada rahmat dan nikmat yang diberikan oleh-Nya.

Nikmat dan rahmat termasuk unsur lazim di dalam sifat Rububiyah. Yang karenanya, Allah pasti Maha Belas Kasih dan Maha Memberi nikmat, dimana hal itu termasuk seuatu keharusan bagi sifat Uluhiyah-Nya. Allah adalah Rabb Yang Maha Benar, sekalioun diingkari dan disebutkan oleh kaum musyrik sebagai memiliki sekutu.

Barangsiapa yang merealisir pengertian surat Al-Fatihah pada dirinya, baik itu secara ilmu, makrifat, amal, dan juga terhadao keadaan diri (hal), maka sungguh ia telah mendapatkan bagian yang sempurna. Lau ibadahnya termasuk ibadah orang khusus, yang derajatnya telah terangkat dari kebanyakan orang awam yang ahli ibadah.

Wallaahul Musta’aan.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.Memetik Manfaat Al-Qur’an. Daar Al Yaqiin li An Nasyar wa At Tauzii’, Mesir, Al Manshur.2000.